Saat Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) menaikkan tingkat suku bunganya, secara otomatis aliran dana asing keluar menuju AS. Hal tersebut membuat rupiah melemah karena pasokan dolar AS menipis.
Saat ini, investor masih menunggu kebijakan The Fed untuk menaikkan tingkat suku bunganya atau Fed Fund Rate (FRR) yang diperkirakan akan dinaikkan bulan Juni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan mempertimbangkan hal tersebut, BI memperkirakan rupiah akan berada pada kisaran Rp 13.500-Rp 13.800.
"Kita memang menyampaikan bahwa nilai tukar ada di kisaran Rp 13.500-13.800. Kemudian kalau misalnya kita lihat rata rata sampai Juni, itu kan di kisaran (realitanya) Rp 13.440. Kalau kita lihat Rp 13.500 ke Rp 13.800, itu mungkin dia ada di kisaran Rp 13.700," sebut Agus.
Meski demikian, kata Agus, semua juga masih tergantung dari bagaimana optimisme Fed Fund Rate akan dinaikkan. Kalau misalnya seperti hari ini, ketika laporan tentang employement dan non farm payroll di AS menunjukkan kondisi tidak seperti yang diharapkan, terus kemudian banyak yang memperkirakan bahwa sekarang pertumbuhan ekonomi AS tidak seperti yang dibayangkan, itu langsung membuat rupiah termasuk mata uang negara-negara lain terjadi penguatan.
"Sekarang ini kan kondisi apakah Fed Fund Rate akan dinaikkan atau tidak kan masih pada kondisi ketidakpastian. Kalau kita melihat ada di kisaran Rp 13.700. Tapi kalau bicara tentang posisi yang kita tawarkan ada di kisaran Rp 13.500-13800. Tetapi kita waktu di APBN kemarin Rp 13.900," pungkasnya. (drk/hns)











































