Kebiasaan warga menggunakan uang baru sebagai "jajanan" yang akan diberikan kepada sanak-kerabat ini memunculkan usaha jasa penukaran uang pinggir jalan atau yang biasa disebut 'inang-inang'.
Setiap bulan Ramadan, pasti bermunculan jasa penukaran uang baru di pinggir-pinggir jalan. Para penyedia jasa penukaran ini bahkan banyak yang sudah memulai bisnisnya mulai hari kedua puasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Widia (27), perempuan asal Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, salah satu penyedia jasa penukaran uang pinggir jalan, mengungkapkan bisnis penukaran uang baru tidak mungkin rugi. Hanya saja, kata dia, keuntungan yang didapat bergantung pada banyak tidaknya penukar uang.
"Makanya harus milih lokasi yang pas (strategis) biar menarik orang," kata Widia yang menjajakan uang baru di pinggir jalan Panglima Sudirman, Kota Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (17/6/2016).
Widia mengaku, sudah hampir sepuluh tahun berbisnis jasa penukaran uang baru. Sebelum mendapat lokasi strategis, teduh di bawah rindang pohon yang sekarang ia tempati, ia berpindah-pindah lokasi.
Mulai hari ketiga Ramadan, Widia sudah memulai bisnisnya tersebut ditemani suaminya.
"Sampai nanti malam lebaran biasanya," ujarnya.
Widia mengaku, puncak transaksi uang baru terjadi seminggu sebelum lebaran di mana sehari bisa mencapai Rp 15 juta.
"Kalau hari-hari ini sekitar Rp 5 juta sehari," katanya.
Ia mengaku, sebulan bertransaksi uang baru, ia bisa mendapat keuntungan Rp 5 juta hingga Rp 7 juta.
"Namanya usaha, ya nggak mesti hasilnya," pungkasnya.
Widia mengaku sangat berhati-hati dalam transaksi. Untuk menghindari riba, kepada setiap pelanggannya ia tidak meng-akad-kan jual beli uang, melainkan upah dari jasa mendapatkan uang baru. (drk/drk)











































