Laporan ini, menganalisis 328 bank di wilayah Asia-Pasifik. Dalam analisanya, 328 bank tersebut, sebanyak 39% membukukan laba pada periode 2003 hingga 2006, namun hanya 28% yang membukukan laba dari 2011 hingga 2014.
Guncangan datang dan menjadi ancaman yang jelas untuk sebagian besar bank di Asia-Pasifik. Namun, tak sedikit yang menjadikan guncangan tersebut untuk menciptakan peluang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut isi laporan tersebut:
- Bank-bank di kawasan Asia-Pasifik telah mendorong industri global karena telah mencatatkan keuntungan lebih dari US$ 1 triliun pada 2015. Pada tahun itu, 46% dari laba perbankan berasal dari kawasan, itu merupakan peningkatan yang signifikan dari 28% pada tahun 2005.
- Tapi, momentum kejayaan perbankan tersebut mulai memudar, ditandai dengan margin dan Return On Equity (ROE) yang bergerak lebih rendah. "Kami melihat awal dari penurunan, dengan ROE di Asia-Pasifik jatuh dari 15% pada 2013 menjadi 14% di tahun 2014," tulis laporan tersebut.
- Bank di setiap negara Asia-Pasifik akan dipengaruhi oleh tiga ancaman dalam bentuk pertumbuhan ekonomi makro yang lebih lambat, serangan dari luar industri yang mengganggu bisnis jasa keuangan, seperti Financial Technology (Fintechs), dan melemahnya neraca keuangan.
- Empat hal yang harus dipahami dan ditangani bagi bank agar tetap bisa bertahan di tengah turbulensi, yaitu fokus pada pertumbuhan, mendorong transformasi digital, memperkuat neraca dan memperkuat organisasi.











































