Lesunya pertumbuhan kredit pada awal tahun 2016 terjadi karena melemahnya pertumbuhan ekonomi di berbagai dunia. Beberapa negara yang mendominasi perekonomian dunia pun telah merevisi angka pertumbuhan ekonominya.
"Global ini sekarang mana yang ekonominya bagus. Bahkan Amerika yang menjadi motor ekonomi dunia bahkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat direvisi ke bawah. Ekonomi Amerika Serikat pun tidak sekuat yang diperkirakan, ekonomi China sudah direcovery pun masih lemah, Eropa masih lemah," jelas Deputi Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara di Kompleks BI, Jakarta Pusat, Jumat (1/7/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita ketergantungan terhadap luar negeri besar sekali. Jadi, kalau ada pelemahan dalam negeri itu faktor dari eksternal memang besar," tutur Mirza.
Meskipun faktor eksternal tersebut menghambat angka pertumbuhan kredit di awal 2016, Bank Indonesia yakin bahwa akan terjadi peningkatan pertumbuhan kredit menjelang akhir tahun 2016 seiring dengan perbaikan ekonomi.
"Dari yang sudah-sudah di semester 2 anggaran pemerintah pencairannya sudah lebih baik, dan kelonggaran moneter untuk menjadi realisasi sektor riil butuh waktu 6 bulan. Nanti di semester 2 lebih baik dibandingkan ekonomi di semester 1," tutup Mirza. (feb/feb)











































