Ada Brexit dan Tax Amnesty, BI Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 5-5,4% di 2016

Ada Brexit dan Tax Amnesty, BI Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 5-5,4% di 2016

Dina Rayanti - detikFinance
Kamis, 21 Jul 2016 16:16 WIB
Ada Brexit dan Tax Amnesty, BI Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 5-5,4% di 2016
Foto: Dina Rayanti
Jakarta - Bank Indonesia (BI) memprediksi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2016 ini akan berada di kisaran 5-5,4% di tahun ini. Faktor yang menjadi perhatian BI adalah cerainya Inggris dan Uni Eropa (Brexit) dan program pengampunan pajak atau tax amnesty di dalam negeri.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara, mengatakan ekonomi global memang akan tumbuh lebih lambat karena efek Brexit. Cerainya Inggris dari Uni Eropa ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi negara maju dan beberapa negara berkembang yang memiliki hubungan kuat dengan Inggris dan Uni Eropa.

"Selain berdampak pada ekonomi Inggris dan Uni Eropa, pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan India, yang memiliki pangsa ekspor cukup besar ke kawasan tersebut, diperkirakan dapat tumbuh lebih rendah dari proyeksi sebelumnya," kata Tirta dalam jumpa pers di Gedung BI, Jakarta, Kamis (21/7/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, lanjut Tirta, di tengah pertumbuhan ekonomi AS yang membaik dan adanya Brexit, maka dolar AS mengalami penguatan. BI memperkirakan, penguatan dolar AS ini mengurangi peluang naiknya suku bunga acuan AS (Fed Fund Rate/FFR).

"Sehingga FFR diperkirakan hanya meningkat satu kali di akhir tahun 2016," ujar Tirta.

Sementara di pasar komoditas, Tirta mengatakan, harga minyak dunia bergerak naik akibat penurunan produksi AS dan gangguan pasokan di beberapa negara. Ke depan, harga minyak diperkirakan masih berada pada level yang relatif rendah seiring permintaan yang masih lemah. Sementara itu, harga beberapa komoditas ekspor Indonesia membaik, khususnya batu bara dan CPO.

Kemudian dari dalam negeri, BI melihat bahwa program pengampunan pajak berpotensi menambah likuiditas perekonomian nasional, yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi produktif di dalam negeri.

"Bank Indonesia akan terus melakukan pendalaman pasar keuangan dengan menambah produk investasi dan lindung nilai (hedging) di pasar keuangan, memperkuat strategi pengelolaan moneter, dan mendorong sektor riil untuk memanfaatkan dana repatriasi secara optimal. Bank Indonesia juga akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah agar pelaksanaan UU Pengampunan Pajak termasuk repatriasi dana dapat bermanfaat bagi perekonomian nasional," papar Tirta.

Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2016 akan membaik, namun terbatas, Konsumsi rumah tangga disebut membaik, yang terlihat dari tumbuhnya penjualan eceran dan mobil menjelang lebaran.

Namun, pertumbuhan investasi, khususnya non bangunan, belum menunjukkan perbaikan yang signifikan di tengah tingginya belanja modal dan barang pemerintah. Dari sisi eksternal, ekspor diperkirakan masih lemah, meskipun beberapa komoditas mulai mengalami peningkatan.

"Pertumbuhan ekonomi pada triwulan-triwulan mendatang diperkirakan akan terus membaik. Hal ini didukung oleh pelonggaran moneter dan makroprudensial, serta penguatan stimulus fiskal yang sejalan dengan implementasi UU Pengampunan Pajak, serta tetap tingginya belanja pemerintah. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan 2016 diperkirakan berada pada kisaran 5,0-5,4%," tutur Tirta. (wdl/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads