Pendapatan operasional BTN, yang terdiri dari pendapatan bunga bersih sebesar Rp 3,696 triliun dan pendapatan operasional lainnya sebesar Rp 584 miliar. Pendapatan bunga bersih ini tumbuh 15,71% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 3,194 triliun.
Sementara pendapatan operasional lainnya tumbuh 12,56% dari tahun 2015 yang sebesar Rp 519 miliar. Bank berkode BBTN itu mencapai hasil kinerja semester I-2016 yang positif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertumbuhan kredit ini didorong oleh penyaluran kredit ke sektor perumahan sebesar Rp 135,745 triliun yang tumbuh 20,23% dan tahun sebelumnya Rp 112,903 triliun.
Kredit non perumahan sebesar Rp 13,571 triliun atau tumbuh 2,64% dari tahun 2015 yang sebesar Rp 13,223 triliun.
Kredit ke sektor perumahan disalurkan untuk mendukung kredit perumahan subsidi dan kredit perumahan non subsidi. Kredit subsidi mencatatkan pertumbuhan cukup tinggi sebesar Rp 49,804 triliun atau tumbuh 31,18% dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 38,011 triliun.
Sementara kredit non subsidi tercatat tumbuh 14,88% dan sebesar Rp 49,755 triliun pada tahun 2015 menjadi Rp 57,158 triliun pada semester I-2016.
Sementara itu bank pelat merah itu mencatatkan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 17,29% menjadi Rp 134,555 triliun pada akhir Juni 2016.
Sementara posisi tahun 2015, DPK BTN tercatat Rp 114,749 triliun. Dan Bank BTN sudah meningkatkan aset menjadi Rp 189,513 triliun atau tumbuh 21,52% dari posisi aset tahun 2015 yang sebesar Rp 155.952 triliun.
Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi dan sementara tren industri menunjukkan NPL yang terus naik, rasio kredit bermasalah (NPL) BTN turun dari 4,70% pada tahun 2015 menjadi 3,41% pada tahun 2016.
BTN secara proaktif mempertahankan posisi likuiditas dan basis permodalan yang solid. Pada semester I-2016 rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 22,07%.
Tetap konsisten pada core business
BTN tetap konsisten terhadap core business-nya dalam bidang pembiayaan perumahan. Kinerja Perseroan semester I-2016 masih menunjukkan konsistensi BTN pada bisnis utamanya tersebut.
lni dapat dilihat dari porsi pembiayaan pada kredit perumahan masih mendominasi dengan komposisi 90 91% atau sebesar Rp 135,745 triliun dari total kredit yang disalurkan Perseroan selama semester I-2016 sebesar Rp 149,316 triliun.
Sementara sisanya yang sebesar 9,09% atau sebesar Rp 13,571 triliun disalurkan untuk pembiayaan kredit non perumahan.
BTN masih menguasai pasar pembiayaan perumahan di Indonesia. Pangsa pasar BTN tercatat 31,72% masih berada di atas BCA (17,3%), BNI (10,1%), Mandiri (89%), BRI (4,7%), Niaga (6,7%) sementara sisanya sekitar 20,7% dikuasai oleh bank-bank lain.
"Kami masih menguasai pasar perumahan di lndonesia dan posisi ini akan kami pertahankan dan terus diupayakan peningkatannya," tegas Maryono.
Hingga Semester I-2016 pencapaian program sejuta rumah telah mencapai sebesar 400.982 unit dengan rincian KPR sebanyak 100.175 unit dan dukungan konstruksi sebanyak 300.807 unit. Adapun jumlah kredit yang telah disalurkan BTN adalah sebesar Rp 42,063 triliun. (ang/feb)











































