Pertemuan yang digelar di Nusa Dua, Bali ini berlangsung tertutup. Ada sedikitnya 11 negara yang terlibat sebagai Delegasi, yakni Indonesia, Australia, China, Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, New Zealand, Filipina, Singapura, dan Thailand. Kemudian juga turut diundang Amerika Serikat (AS), India dan Singapura.
Dalam siaran pers BI yang dikutip detikFinance, Minggu (31/7/2016), para Gubernur Bank Sentral menyepakati untuk memperkuat kerja sama regional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara umum pasar keuangan di kawasan EMEAP tetap berfungsi baik di tengah beberapa ancaman yang dapat meningkatkan gejolak. Maka dari itu
diperlukan komunikasi dan kerja sama antara para otoritas sangat penting untuk dapat menentukan arah perekonomian di tengah ketidakpastian global.
Komunikasi dan kerja sama tersebut perlu dilakukan tidak hanya di area EMEAP, namun juga dengan negara-negara lainnya. EMEAP sebagai wadah
bersama untuk berbagi dan berdiskusi mengenai berbagai perkembangan dan isu yang memengaruhi stabilitas ekonomi, moneter dan keuangan regional.
Pertemuan tersebut membahas dan mengapresiasi kemajuan dalam aktivitas kerja sama EMEAP di bidang pasar keuangan, pengawasan bank, sistem
pembayaran dan setelmen, serta teknologi informasi.
Para gubernur juga mendiskusikan perkembangan Komite Stabilitas Moneter dan Keuangan (Monetary and Financial Stability Committee-MFSC) terkait pengawasan (surveillance), kegiatan riset, dan kerangka manajemen krisis regional. Sehingga perlunya pembentukan suara kolektif dalam merespons reformasi kebijakan global.
Selanjutnya, para gubernur juga menerima the Reserve Bank of New Zealand sebagai tuan rumah pada Pertemuan Gubernur EMEAP ke-22 pada 2017. (mkl/drk)











































