BI: Ekonomi Global Masih Penuh Ketidakpastian

BI: Ekonomi Global Masih Penuh Ketidakpastian

Maikel Jefriando - detikFinance
Senin, 01 Agu 2016 10:26 WIB
BI: Ekonomi Global Masih Penuh Ketidakpastian
Foto: Maikel Jefriando
Nusa Dua - Bank Indonesia (BI) melihat ekonomi global masih penuh ketidakpastian. Masing-masing negara memiliki persoalan yang harus diatasi dengan berbagai kebijakan dan ini ternyata memberikan pengaruh terhadap negara lain.

Demikianlah diungkapkan oleh Gubernur BI Agus Martowardojo dalam seminar bersama antara BI dan Federal Reserve Bank of New York di Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali, Senin (1/8/2016).

"Ekonomi global masih penuh ketidakpastian. Ragam langkah untuk pemulihan dan kebijakan moneter masih terpengaruh isu global," jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa di antaranya adalah normalisasi ekonomi di Amerika Serikat (AS) masih terus berjalan, Eropa dan Jepang dengan suku bunga negatif untuk mendorong perekonomian. Pada saat yang sama, China terus mengalami perlambatan secara perlahan.

"Baru saja terjadi adalah keputusan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa, mengubah proyeksi ekonomi global," terang Agus.

Agus menambahkan, sekarang kondisi ketidakpastian politik juga memberikan pengaruh yang kuat terhadap kejatuhan perekonomian global. Ada satu keterkaitan yang cukup kuat antara politik dengan persepsi investor di pasar keuangan.

"Maka dari itu diperlukan penguatan pondasi sistem keuangan perlu dilakukan. Jadi tidak hanya berkutat pada stabilitas, menggenjot pertumbuhan namun juga pondasi sistem keuangan," ujarnya.

Dari berbagai kondisi tersebut, bank sentral pada setiap negara diuji untuk mengeluarkan kebijakan yang kreatif dan inovatif agar mampu menahan efek dari kerentanan ekonomi global.

"Bank sentral dituntut untuk bertindak berani di tengah krisis besar, bergerak maju untuk mencegah dunia dari depresi terhadap krisis ekonomi. Kreativitas ini diharapkan akan berlanjut secara terus menerus," kata Agus.

Acara ini dihadiri oleh Presiden Bank Sentral New York Amerika Serikat (AS) William C. Dudley, Gubernur Bank Sentral India Raghuram Rajan, Gubernur Bank Sentral Thailand Veerathai Santiprabhob, Direktur Otoritas Moneter Singapura Ravi Menon dan Deputi Manager IMF Mitsuhiro Furusawa, kemudian Kepala Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah, Gubernur Bank Sentral Filipina Amando Tetangco serta Mantan Wakil Presiden RI Boediono. (mkl/feb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads