Raghuram Rajan, Gubernur Bank Sentral India, beruntung negaranya menjadi salah satu yang mampu tetap tumbuh di atas 5%. Kuncinya adalah tetap melanjutkan reformasi struktural untuk memperkuat fundamental ekonomi.
"Mungkin kita harus puas dengan tingkat pertumbuhan lebih lambat saat melakukan reformasi yang tentu meningkatkan tingkat pertumbuhan," ujarnya, dalam kegiatan seminar bersama antara BI dan Federal Reserve Bank of New York di Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali, Senin (1/8/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ekonomi tumbuh tinggi, namun hanya dipacu oleh komoditas tertentu. Tidak ada penguatan industri dalam negeri dan peningkatan daya saing yang dilakukan. Maka impor menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Menurut Rajan hal tersebut merusak struktur fundamental ekonomi negara.
"Ini adalah salah satu jawaban suatu negara mampu menerima atau tidak," imbuhnya.
Satu hal yang tidak luput pada negara, bagi Rajan adalah politik. Ada kecenderungan tekanan politik kepada bank sentral untuk memuluskan kebijakan pemerintah yang sebenarnya masih diragukan efektifitasnya.
"Biasanya dengan kebijakan fiskal yang terbatas, reformasi struktural secara politik sulit. Akhirnya ini membawa banyak tekanan politik untuk bank-bank sentral di seluruh dunia untuk melakukan apa yang diperlukan," papar Rajan.
Rajan mengakui, bank sentral adalah lembaga yang terbatas. Mengendalikan inflasi adalah mandat utama, namun realitasnya lebih dari itu, sebab terkait dengan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan produktivitas dan lainnya.
Maka dari itu bank sentral harus mampu menciptakan kebijakan yang kreatif, inovatif dan kuat. "Ada satu kebijakan yang lebih inovatif yang saya pikir sekarang. Saya pikir cukup favorit sekarang adalah helikopter uang. Saya merasa sulit untuk memahami bagaimana helikopter uang berpengaruh signifikan untuk ekspansi fiskal yang kuat," terangnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rajan menyampaikan salam perpisahan untuk para pimpinan bank sentral yang hadir. Sebab pada September mendatang, Ia tidak lagi menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral.
"Akhirnya, saya berakhir dengan dilema gubernur bank sentral ini, seperti 'yang kita miliki sekarang," tutupnya. (mkl/wdl)











































