Kenaikan suku bunga The Fed diperkirakan dilakukan satu kali menjelang akhir tahun ini. Dengan demikian sentimen di pasar keuangan dunia sudah mulai dirasakan.
"Ini membuat mereka mengatakan kemungkinan menaikkan FFR (Fed Fund Rate) lebih tinggi di tahun ini, dan itu akan dilakukan satu kali. Ini sudah membuat suatu volatility di pasar keuangan dunia," jelas Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo di Gedung Thamrin BI, Jakarta Pusat, Jumat (2/9/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk Negara di dunia banyak yang kemudian mengalami capital reversal (penarikan dana) menuju ke Amerika. Ini juga berdampak ke Indonesia. 3 hari 23-25 agustus banyak dana yang keluar (outflow). Walaupun dana masuk ke Indonesia sampai Rp 162 triliun masuk, tapi ketika mendengar Amerika Serikat mau menaikkan Fed Fund Rate walaupun belum jelas, sudah ada outflow," ujar Agus.
Indonesia pun perlu mewasapadai terjadinya sentimen negatif karena masih terjadinya defisit transaksi berjalan. Dengan demikian juga dapat terlihat bahwa ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap asing masih cukup tinggi.
"Indonesia sebagai suatu negara berkembang yang indikator ekonominya baik, memang masih ada tantangan karena transaksi berjalan kita defisit. Dan kalau seandainya transaksi berjalan defisit artinya ketergantungan kita pada ekonomi dunia dengan adanya dana masuk ke Indonesia dalam Foreign Direct Investment, atau portfolio investment itu masih tinggi. Jadi, yang saya lihat adalah Fed Fund Rate kemungkinan naik satu kali. Dan pada saat periode itu mau dilakukan, akan ada cukup tekanan dan untuk itu Indonesia akan terus waspada," tambah Agus.
Dana asing bisa ditahan untuk tidak keluar dari Indonesia, asalkan fundamental perekonomian bisa diperkuat. Pertumbuhan ekonomi 5,18% pada kuartal II-2016 dan tingkat inflasi juga masih berada dalam kisaran wajar 2,79% year on year.
"Kita punya inflasi terjaga bahkan inflasi kita itu dapat dikatakan year on year 2,79%, kita transaksi berjalan itu juga walaupun defisit tapi defisitnya terjaga. Karena kita sekarang ini di kuartal II-2016, itu kan defisit transaksi berjalannya ada di kisaran 2% dari GDP. Di akhir tahun diperkirakan 2,2% dari GDP," kata mantan Menteri Keuangan tersebut.
"Kita dalam kondisi cukup kuat, kita juga mempunyai cadangan devisa US$ 111 miliar di atas 8 bulan, untuk memenuhi kewajiban impor dan pembayaran kewajiban kita," paparnya.
Untuk memperkuat fundamental perekonomian dalam negeri, pemerintah juga melakukan kebijakan moneter dan fiskal. Hal ini juga yang membuat iklim ekonomi di Indonesia dalam keadaan baik.
"Jadi kita akan hadapi ini dengan baik dan tone dunia kepada kita sedang positif, yang utama karena komitmen dari otoritas pemerintah untuk lakukan reformasi struktural itu kuat, komitmen untuk reformasi di fiskal dan moneter juga kuat. Jadi reformasi di sektor riil fiskal dan moneter, membuat Indonesia dalam kondisi yang lebih kuat," tutup Agus. (mkl/mkl)











































