"NPL nett 2,4-2,5% NPL Gross 3,11%. Ada tren membaik tapi kalau dilihat ke depan dari survei bank Indonesia dan LPS, bank akan cukup hati-hati dalam memberikan kredit," jelas Ketua Dewan Komisioner LPS, Halim Alamsyah saat jumpa pers di di Ruang Serbaguna LPS, Equity Tower, Jakarta, Selasa (13/9/2016).
Ada dua sektor industri yang menyumbang naiknya NPL, antara lain sektor pertambangan dan komoditas. Kedua sektor ini tengah mengalami goncangan di pasar dunia karena anjloknya harga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertambangan dan Komoditas primer menjadi sebab utama kenapa NPL meningkat. Namun kami juga melihat ke depan ada optimisme karena ada perubahan kebijakan BI tentang suku bunga dan kenaikan LTV," kata Halim.
Tingginya NPL di Indonesia bisa diatasi dengan tingginya Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal di bank umum sebesar 22,5% dan Net Interest Margin (NIM) sebesar 5,6%. Angka tersebut merupakan yang terbesar di Asia.
Sehingga NPL sebesar 3,11% masih bisa diatasi dengan tingginya kecukupan modal bank dan margin keuntungan.
"CAR 22,5% NIM 5,6% salah satu yang tertinggi di Asia. Sehingga NPL 3,11% ini masih bisa diserap oleh tingkat bantalan permodalan yang tinggi," kata Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan di tempat yang sama.
Tingginya NPL juga bisa diatasi dengan memberikan pinjaman ke proyek-prroyek infrastruktur yang tengah dikebut pemerintah
"Pemulihan kredit perbankan akan dari proyek infrastruktur, industri kontraktor, vendor akan terstimulasi," tutup Fauzi. (ang/ang)











































