BI: Repatriasi Perusahaan Jepang Picu Melemahnya Rupiah
Rabu, 30 Mar 2005 11:13 WIB
Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah menyatakan salah satu penyebab melemahnya nilai tukar Rupiah saat ini adalah adanya repatriasi keuntungan dari sejumlah perusahaan Jepang."Di Indonesia banyak perusahaaan Jepang yang beroperasi. Pada Maret ini kan masanya perusahaan Jepang repatriasi keuntungannya. Ini yang mendorong bertambahnya permintaan dolar AS," kata Burhanuddin usai membuka acara diskusi panel Prospek, Tantangan dan Arah Kebijakan Ekonomi Indonesia di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Rabu (30/3/2005).Selain faktor repatriasi, kata Burhanuddin, fakor yang mendorong kelemahan Rupiah adalah adanya penjualan dari kepemilikan asing di dalam Rupiah dimana kepemilikan asing misalnya dalam bentuk saham dijual kemudian kembali lagi ke dolar AS.Dia menyebutkan saaat ini, transaksi harian valuta asing di Indonesia masih sangat tipis, yakni sekitar US$ 300-400 juta per hari. Angka ini sangat jauh jika dibandingkan dengan transaksi sebelum krisis yang pernah mencapai US$ 12 miliar per hari."Saat ini transaksi sangat tipis. Kalau ada permintaan yang bertambah sedikit saja bisa menggerakkan harga cukup besar. Oleh karenanya BI tetap stand by di pasar untuk memenuhi kebutuhan dolar AS yang ada saat ini," katanya.Disampaikannya, dalam beberapa hari ini BI sudah melakukan intervensi ke pasar sebab jika tidak melakukan intervensi maka nilai tukar Rupiah akan makin turun. Meskipun demikian intervensi yang dilakukan BI tetap mengacu pada UU bahwa sistem devisa Indonesia adalah devisa bebas dengan nilai tukar mengambang."Jadi dalam intervensi kita tidak targetkan suatu level tertentu, namun kita menjaga volatilitasnya," tegasnya.Dia berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama nilai tukar Rupiah bisa kembali stabil dan menguat sesuai dengan asumsi dalam APBN Perubahan 2005 yang ditetapkan Rp 8900 per 1 dolar AS.
(mar/)











































