Rini mengungkapkan, merger tersebut dilakukan lantaran sebelumnya belum ada perusahaan reasuransi dengan modal besar di Indonesia. Kecilnya modal perusahaan reasuransi dalam negeri ini, membuat asuransi kemudian mengasuransikan kembali (reasuransi) ke perusahaan asuransi luar negeri.
"Sekarang industri asuransi jumlah preminya setahun mencapai Rp 250 triliun, tapi selalu terjadi defisit transaksi akibat impor jasa reasuransi yang setahunnya mencapai Rp 20 tahun," jelas Rini saat launching Indonesia Re di Hotel Indonesia, Jakarta, Jumat (7/10/2016).
"Kenapa setiap tahun impor puluhan triliun jasa reasuransi, karena 4 perusahaan reasuransi di sini ukurannya kecil, sulit tumbuh, dan malah saling bersaing dalam harga, bukan menciptakan nilai," tambahnya.
Dengan pertumbuhan premi asuransi yang setiap tahunnya mengalami peningkatan, semakin besar pula premi reasuransi yang kemudian keluar atau direasuransi ke perusahaan reasuransi asing.
"Maka 2 dari 4 perusahaan reasuransi itu adalah anak usaha BUMN, kita gabungkan saja. Tak boleh ada perusahaan yang modalnya dari negara tapi saingan perang harga," ucap Rini.
Dengan penggabungan menjadi perusahaan baru, Indonesia Re, maka diharapkan ada satu perusahaan reasuransi besar yang bisa mengurangi defisit transaksi asuransi.
"Jadi keputusan gabungkan reasuransi untuk bikin perusahaan asuransi besar Indonesia. Kita punya banyak perusahaan asuransi, tapi perusahaan reasuransi anak BUMN urutannya hanya nomor 7 di Asia Tenggara," kata Rini. (hns/hns)










































