Inflasi Terlalu Tinggi, Rupiah Cenderung Melemah
Senin, 04 Apr 2005 09:34 WIB
Jakarta - Pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) tentang tingkat inflasi Indonesia pada Maret 2005 sebesar 1,91 persen direspon negatif oleh pasar. Akibatnya nilai tukar rupiah cenderung melemah. Meski demikian rupiah belum akan tembus ke atas batas psikologis Rp 9.500 per US$ 1."Kalau kita lihat memang rupiah cenderung melemah akibat sentimen negatif tingkat inflasi yang merupakan tertinggi sejak 2003 lalu," kata analis valuta asing dari Bank BNI Hindria Listyadi kepada detikcom di Jakarta, Senin (4/4/2005).Menurut Hindria saat pembukaan rupiah masih terpantau stagnan di Rp 9.465 per US$ 1 namun kemudian mulai merangkak melemah ke posisi Rp 9.485 per US$ 1. "Sentimen negatif lainnya adalah di pasar global Yen Jepang cenderung melemah atas dolar AS," ujarnya.Meski demikian Hindria Listyadi memprediksikan rupiah tidak akan terlalu jauh melemah pasalnya pelaku pasar masih terus menunggu kebijakan Bank Indonesia untuk meredam inflasi dengan kebijakan kenaikan suku bunga sertifikat Bank Indonesia (SBI)."Jadi pasar masih menunggu hasil lelang SBI pada rabu besok. Hari ini juga tidak ada rumor yang terlalu negatif yang mungkin menyebabkan rupiah anjlok jauh," tegas Hindria.Disebutkannya untuk hari ini rupiah kemungkinan besar akan bermain di kisaran Rp 9.470-Rp 9.500 per US$ 1.
(san/)











































