OJK: Tax Amnesty Berhasil, 'Trump Effect' Tak Berdampak ke Perbankan RI

OJK: Tax Amnesty Berhasil, 'Trump Effect' Tak Berdampak ke Perbankan RI

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Senin, 14 Nov 2016 12:03 WIB
OJK: Tax Amnesty Berhasil, Trump Effect Tak Berdampak ke Perbankan RI
Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - Pasca menangnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45, gejolak di pasar keuangan dunia terjadi. Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terjadi di Indonesia.

Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Nelson Tampubolon, sentimen negatif kemenangan Trump ke industri perbankan tidak dirasakan. Gejolak pasar modal yang terjadi Jumat (11/11/2016) kemarin lebih kepada reaksi sesaat pelaku pasar atas menangnya Trump dalam pemilu AS.

"So far nggak ada reaksi yang berlebihan dari stakeholder perbankan, baik pemilik dana atau yg memanfaatkan jasa perbankan belum ada gangguan. Yang kemarin kan yang kita liat reaksi sesaat ke pelaku pasar modal makanya indeks turun, lalu kurs rupiah turun, tapi menurut saya ini hanya reaksi sementara, biasalah orang meraba ini arahnya. Jadi ya dia save dulu tapi nanti mengarah kembali," jelas Nelson, di Gedung Bidakara 2, Jakarta Selatan, Senin (14/11/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Efek kemenangan Doanld Trump juga tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap likuiditas perbankan. Hingga akhir tahun, likuditas perbankan diperkirakan masih dalam batas aman.

"Kalau sampai akhir tahun ini saya bisa pastikan likuiditas perbankan kita tetap longgar. Jadi yang dulu sering kita hadapi ada tekanan ya, tapi kayaknya untuk tahun ini mungkin menurun tapi tetap dalam kondisi yang sangat normal," tutur Nelson.

Ditambah lagi dengan masuknya dana repatriasi tax amnesty di akhir tahun Rp 100 triliun. Dana repatriasi tersebut sebagian akan masuk ke instrumen investasi perbankan yang akan menambah likuiditas bank tahun depan.

"Kalau tahun depan kita bersyukur ya tax amnesty cukup berhasil. Saya melihatnya itu faktor menjadi modal awal kita untuk menghadapi kondisi likuiditas tahun depan," kata Nelson. (wdl/wdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads