BNI Salurkan KUR Rp 4,4 Triliun Untuk UMKM

BNI Salurkan KUR Rp 4,4 Triliun Untuk UMKM

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Senin, 14 Nov 2016 19:30 WIB
BNI Salurkan KUR Rp 4,4 Triliun Untuk UMKM
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (BNI) (Persero) telah menyalurkan kredit lewat sistem online atau yang dinamakan digital loan sebanyak Rp 4,4 triliun hingga 11 November 2016. Jumlah ini terdiri dari penyaluran kredit lewat sistem Electronic Loan Origination (ELO) sebanyak Rp 4,387 triliun dan lewat sistem e-form sebanyak Rp 3 miliar. Jika dibulatkan, angkanya mencapai sekitar Rp 4,4 triliun.

"Yang sudah approved 8.638 aplikasi dari 10.676 pengajuan. Nilainya Rp 4,3 triliun dari ELO mobile. Sejak di-launching 1 April sampai 11 November Rp 4,4 triliun. Artinya kita memang mendekat kepada pelaku UMKM," kata Senior Vice Presiden Bisnis Usaha Kecil BNI, Anton Siregar dalam Media Workshop di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (14/11/2016).

BNI menjadi bank pertama yang melakukan layanan kredit lewat proses digital atau digital loan. Pengajuan kredit lewat digital loan menyasar kepada pelaku UMKM. Hal ini juga untuk memanfaatkan potensi pasar UMKM yang kini banyak memanfaatkan internet sebagai sarana penjualannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anton mengatakan, dengan tingginya minat masyarakat mengajukan kredit secara digital ini, hingga Desember penyaluran KUR bisa mencapai Rp 5,4 triliun.

"Kami pengen tutup sampai Desember ini, kami asumsikan Rp 10 miliar harus di-approve untuk e-form. Kalau ELO bisa Rp 1 triliun lagi. Jadi sekitar Rp 5,4 triliun," ungkapnya.

Informasi saja, BNI meluncurkan fasilitas kredit digital, dengan memberikan kemudahan untuk menyalurkan kredit lewat sistem online atau yang dinamakan digital loan. Lewat digital loan, nasabah yang ingin mengajukan kredit tidak perlu repot-repot untuk antre dan mengisi formulir di kantor cabang BNI.

"Ke depan bukan hanya jumlah yang disalurkan, tapi jumlah yang diterima. Kami harus tumbuh agresif. Target 2018, portofolio bisnis kecil Rp 100 triliun atau 20% dari KUR. Sekarang 16-18%," tukas Anton. (drk/drk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads