Tujuan pemerintah India sebenarnya baik, yaitu demi memberantas korupsi, uang palsu, serta penimbunan uang secara ilegal. Banyak warga India yang selama ini jadi kaya berkat melakukan aktivitas terlarang itu.
Meski tujuannya mulia, tapi ternyata pelaksaannya tidak berjalan dengan baik. Ujung-ujungnya, kaum miskin juga yang terkena imbasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sushil bersama pedagang valuta asing (valas) lain yang berada di luar India mau tidak mau harus pulang kampung untuk menukarkan pecahan 500 dan 1.000 milik perusahaannya.
Sebab, pecahan tersebut sudah tidak berlaku dan hanya bisa ditukar di perbankan yang ada di dalam negeri India.
Selain itu, warga juga kesulitan menukar uang karena dibatasi. Selain dibatasi, bank-bank juga dengan cepatnya kehabisan uang tunai karena harus melayani penukaran sampai buka di akhir pekan.
Sebanyak 98% transaksi di India dilakukan dengan uang tunai. Wajar saja ketika ada pecahan yang ditarik dari peredaran membuat warganya kelimpungan.
Apalagi negara dengan 1,3 miliar penduduk ini hanya punya 200.000 ATM menurut survei PricewaterhouseCoopers. Setengah dari jumlah ATM itu bahkan tidak berfungsi alias rusak.
"Jika 10 orang saja mengantre di ATM, setelah itu uangnya langsung habis. Kebijakan pemerintah ini bagus, tapi tidak diikuti oleh pelaksanaan yang baik," kata Sunil Chadha (54), warga India yang sedang mengantre di ATM.
Dalam 4 hari terakhir, sejak kebijakan baru tersebut berlaku, pemerintah sudah menarik 3 triliun rupee atau sekitar Rp 590 triliun. Namun yang sudah dikembalikan ke masyarakat dengan pecahan lebih kecil baru 500 miliar rupee (Rp 98,3 triliun).
Pemerintah pun menaikkan batasan penukaran uang dari 4.000 menjadi 4.500 rupee. Sedangkan batas jumlah penarikan di ATM juga ditambah, dari 2.000 menjadi 2.500.
Beberapa institusi masih bisa menggunakan uang pecahan lama sampai 24 November, seperti rumah sakit milik pemerintah, sarana transportasi dan layanan umum lainnya.
Untuk mengganti rupee pecahan 500 dan 1.000 yang ditarik, pemerintah India akan menerbitkan pecahan 500 dan 2.000 baru. Sayangnya, ukuran uang ini terlalu kecil untuk mesin ATM.
Artinya, seluruh mesin ATM yang ada di India harus di-recalibrated alias diatur ulang. Pemerintah mengaku butuh waktu sekitar 2 pekan untuk mengatur ulang ATM ini.
Sementara ini warga India hanya bisa menarik pecahan terbesar 100 rupee (Rp 19.600) saja sampai ATM bisa menerima rupee pecahan baru. (ang/dna)











































