Hal ini diungkapkan oleh Gubernur BI Agus Martowardojo dalam konferensi pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (17/11/2016).
Rupiah dalam beberapa hari terakhir memang terlihat melemah cukup dalam. Dolar AS terkuat mencapai level tertinggi Rp 13.485.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasannya adalah fundamental ekonomi Indonesia cukup baik. Diukur dari pertumbuhan ekonomi yang masih di atas 5%, kemudian inflasi yang bisa dijaga pada kisaran 3% dan defisit transaksi berjalan yang terkendali di sekitar 2% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Kami katakan bahwa secara umum kita dengan kondisi ekonomi domestik stabil dan sehat. Itu seharusnya kalau ada depresiasi itu adalah lebih karena sentimen negatif dari global," paparnya.
BI tetap akan berada di pasar untuk memantau pergerakan nilai tukar sesuai dengan fundamentalnya.
"BI akan selalu berada di pasar untuk menjaga nilai tukar," tandasnya. (mkl/drk)











































