Namun, kekhawatiran dunia akan efek domino yang akan ditimbulkan oleh Trump merupakan perubahan yang senantiasa harus dihadapi oleh pelaku pasar keuangan dunia yang memang telah berubah dinamikanya saat ini.
Demikian diungkapkan CEO Credit Suisse Asia Pasific, Helman Sitohang kepada detikFinance di Jakarta, Rabu (30/11/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Program-program pembangunan infrastruktur besar-besaran yang ditawarkan oleh Donald Trump membuat pasar tertarik dengan ide-idenya dan membuat reaksi pasar naik terhadap ekonomi dan prospek di Amerika juga kepada dolar AS.
"Jadi kalau dia (investor) ada lihat yang lebih menarik di Amerika, dana itu sebagian ada yang pindah. Dana yang sebagian pindah ini tentunya pengaruh terhadap misalnya mata uang. Hal itu juga berhubungan ketat dengan suku bunga. Pengaruhnya tentu kalau suku bunga turun, dianggapnya di Amerika mungkin bunganya akan rendah terus, dengan ide Trump untuk investasi di infrastruktur, tentunya dana akan naik di sana. Tapi kalau bunga di AS naik, tentunya bunga di Asia nggak bisa turun lagi. Bahkan mungkin juga bisa naik sedikit. Ini yang kita lihat nanti," jelas Helman.
Helman menjelaskan, pengaruhnya sendiri tidak akan terlalu besar bagi pasar keuangan di Asia, khususnya Indonesia. Namun Credit Suisse sebagai salah satu penyedia jasa layanan konsultasi keuangan terkemuka di dunia siap menawarkan peluang-peluang yang bisa dilirik dari adanya peristiwa ini.
"Jadi ya hal-hal itulah yang dilihat. Di situ Credit Suisse masuk sebagai ahli di investment banking dan wealth management untuk memberikan pandangan, input, analisa, research, bagaimana kira-kira skenario yang terjadi kalau kira-kira kejadian. Itu yang musti kita lihat," papar Helman.
"Jadi ini kelihatan side effectnya banyak. Dengan Trump terpilih ini, tren tadi itu berbalik sedikit. Tapi berbaliknya seberapa jauh, kita belum bisa tentukan sekarang, karena dia juga belum aktif. Belum tentukan Menteri Keuangannya siapa, dan sebagainya. Nanti kalau sudah, baru policy-nya akan kelihatan semua. Bisa saja mungkin jauh lebih tinggi yang diharapkan, atau bisa juga nggak setinggi yang pasar perkirakan sekarang," tukasnya. (drk/drk)











































