Salah satu alasan yang diungkap atas pengunduran diri ramai-ramai ini adalah soal pergantian secara rutin 5 tahunan.
Namun, adakah alasan lain mengapa mereka mengambil jalan mengundurkan diri secara beramai-ramai dibandingkan pemberhentian secara resmi melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
David Santoso selaku Direktur Keuangan mengungkapkan, saat ini perseroan butuh kepemimpinan baru yang lebih fresh dan up to date dalam mengembangkan bisnis perseroan.
Sebagaimana diketahui, persaingan bisnis transportasi semakin ketat terlebih banyak menjamurnya layanan transportasi online, yang tentu saat ini lebih disukai masyarakat.
"Persaingan taksi seperti ini perlu jeli, pemikiran harus lebih maju dan up to date. Ini kebutuhan mendesak. Mungkin karena kita orang lama jadi konservatif, butuh yang agresif untuk inovasi," katanya kepada detikFinance, Jumat (2/12/2016).
Terkait hal tersebut, apakah layanan transportasi online yang kian mengungguli layanan transportasi konvensional membuat para direksi dan komisaris ini menyerah sehingga lebih memilih mengundurkan diri? Apakah bisnis mereka tergilas?
"Kita bukan tergilas tapi terzalimi. Harusnya ada aturan yang jelas soal ini (transportasi online)," ucap dia.
David menambahkan, di tangan kepemimpinan baru diharapkan mampu menciptakan inovasi baru yang lebih baik sehingga mampu memperbaiki kinerja perseroan ke depan.
"Kita butuh regenerasi beralih ke manajemen yang fresh, investasi saat ini sengit, baik taksi online maupun konvensional. Kita percaya dengan pergantian bisa maju lagi," ucap David.
Informasi saja, PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) mencatatkan kerugian sebesar Rp 81,805 miliar dalam 9 bulan pertama tahun 2016 atau periode yang berakhir pada 30 September 2016.
Padahal, di periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan masih membukukan keuntungan sebesar Rp 11,075 miliar. Rugi tersebut disebabkan karena perseroan menderita rugi selisih kurs. (drk/ang)











































