Referendum Italia Bisa Picu Krisis Perbankan di Uni Eropa

Referendum Italia Bisa Picu Krisis Perbankan di Uni Eropa

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Senin, 05 Des 2016 10:34 WIB
Referendum Italia Bisa Picu Krisis Perbankan di Uni Eropa
Foto: dok. Getty Images
Jakarta - Situasi politik Italia kembali bergejolak. Guncangan politik ini tak hanya mempengaruhi kondisi ekonomi Italia, tapi juga Uni Eropa dan dunia.

Minggu kemarin, warga Italia diminta mengambil keputusan yang sangat penting, yaitu menyetujui reformasi yang diusulkan Perdana Menteri, Matteo Renzi, atau menolaknya.

Renzi mengusulkan mempersingkat birokrasi supaya bisa memimpin Italia dengan lebih mudah dalam membereskan krisis finansial yang berkepanjangan. Jika usulan ini tidak disetujui, maka Renzi sudah menyatakan siap mundur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari proyeksi perhitungan, sepertinya suara rakyat Italia yang menolak reformasi bakal menang dengan persentase 59,5%.

Akibat dari gagalnya reformasi ini, menurut Kepala Analis Manulife Asset Management Megan Greene, adalah timbul ketidakpastian ekonomi hingga krisis perbankan di Uni Eropa.

"Menurut saya risiko terbesar adalah di sektor perbankan, jauh lebih berbahaya ketimbang risiko politik," katanya seperti dikutip dari CNBC, Senin (5/12/2016).

Ia menambahkan, negara dengan ekonomi ketiga terbesar di Uni Eropa itu masih dalam resesi ekonomi karena selama ini bermasalah dengan utang yang menggunung, yaitu 356 miliar euro (Rp 5.340 triliun).

Sementara perbankan di negeri pizza itu setidaknya butuh 20 miliar euro (Rp 300 triliun) untuk suntikan modal dalam upaya bersih-bersih utang bermasalah.

Menurutnya, gagalnya reformasi Italia bisa memicu kepanikan investor untuk kabur dari negara tersebut yang membuat perbankan setempat makin kesulitan.

Setelah Renzi mundur, Presiden Sergio Mattarella bakal diminta untuk menunjuk pemerintahan baru hingga pemilu selanjutnya pada pertengahan 2018. (ang/drk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads