Perbankan Italia Terancam Krisis Akut, Apa Dampaknya ke Indonesia?

Perbankan Italia Terancam Krisis Akut, Apa Dampaknya ke Indonesia?

Maikel Jefriando - detikFinance
Kamis, 08 Des 2016 17:57 WIB
Perbankan Italia Terancam Krisis Akut, Apa Dampaknya ke Indonesia?
Foto: Ilustrator: Zaki Alfarabi
Jakarta - Referendum Italia dan mundurnya Perdana Menteri Matteo Renzi menimbulkan kekhawatiran pada kesehatan sektor perbankan global. Beberapa bank Italia terancam tidak bisa melanjutkan hidupnya.

Contohnya bank tertua di dunia yang berasal dari Italia, Monte dei Paschi di Siena (BMPS), tengah sekarat. Bank yang berdiri sejak 1472 ini sudah meminta waktu tambahan ke bank sentral Eropa untuk mengumpulkan dana guna memenuhi kecukupan modalnya.

Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan Fauzi Ichsan menuturkan kondisi perbankan pada negara tersebut memang sulit. Akan tetapi bila perbankan tersebut tidak terselamatkan, efeknya ke Indonesia tidak akan terlalu signifikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alasannya adalah perbankan Italia merupakan gambaran dari ekonomi Italia yang sekaligus bagian dari Uni Eropa. Fauzi menilai porsinya sangat kecil.

"Jadi pengaruhnya ke Indonesia, khususnya perbankan itu relatif kecil," ujarnya di sela-sela seminar bertajuk Unlocking Public and Private Investment in Indonesia: Role of Financial Sector di Hotel Hilton, Bali, Rabu (8/12/2016).

Ini berbeda ketika kejadian yang menimpa Amerika Serikat (AS) pada 2008 silam, di mana porsi perbankan di negara tersebut mencakup 20% dari ekonomi dunia. Sehingga efeknya sangat besar, terutama terhadap negara-negara berkembang.

"Jadi dampaknya kalau yang di AS memang besar," imbuhnya.

Kepanikan investor pasar keuangan yang terjadi sekarang, seperti Uni Eropa menurut Fauzi tidak mutlak hanya karena Italia. Melainkan gabungan dari terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS dan rencana kenaikan suku bunga acuan AS.

"Kondisi sekarang itu adalah akumulasi dari berbagai macam isu," tegas Fauzi.

Fauzi menambahkan, ke depan memang masih ada ketidakpastian yang harus dihadapi. Salah satunya terkait dengan suku bunga acuan. Diproyeksikan akan ada kenaikan 25 bps pada Desember 2016 dan 50 bps pada tahun depan.

Ini sudah mempertimbangkan rencana kebijakan Trump, pertumbuhan ekonomi, inflasi serta angka pengangguran pada negara tersebut. Ia memperkirakan maksimal suku bunga acuan 3%.

"Mungkin tidak akan kembali mencapai 5% seperti sebelum krisis," pungkasnya. (mkl/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads