BI Lanjutkan Kebijakan Moneter yang Cenderung Ketat
Selasa, 12 Apr 2005 17:06 WIB
Jakarta - Bank Indonesia akan melanjutkan kebijakan moneter yang cenderung ketat untuk memelihara kestabilan makro ekonomi dan mengendalikan tingkat inflasi dalam jangka menengah.Hal itu disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah dalam jumpa pers mengenai hasil rapat dewan gubernur di Gedung Bank Indonesia, Jl MH Thamrin, Jakarta, Selasa (12/4/2005)."Kebijakan moneter tiga bulan ke depan akan cenderung ketat, nilai tukar diarahkan pada upaya memperkecil volatilitas dan mengurangi dampaknya terhadap inflasi," kata Burhanuddin.Kebijakan moneter, lanjutnya, akan diarahkan untuk mencapai target inflasi jangka menengah sebesar 5 persen pada 2008 yang nantinya akan searah dengan tingkat inflasi di kawasan Asean.Defisit Neraca PerdaganganMenurut Gubernur BI ada beberapa hal yang perlu diperhatikan baik oleh pemerintah maupun BI yaitu neraca perdagangan untuk minyak mengalami defisit US$ 2 miliar per tahun. "Oleh karena itu harus diisi oleh bidang-bidang yang lain dalam perekonomian," ujarnya.Kekurangan devisa, katanya, mencapai sekitar US$ 12-15 miliar untuk membiayai perekonomian secara keseluruhan. "Kalau dibiarkan akan mengurangi ketahanan perekonomian kita. Untuk itu kebijakan di sektor riil akan ditingkatkan dengan cara peningkatan ekspor dan perbaikan sistem keuangan. Hal ini memang memerlukan kebijakan yang cukup koordinatif," jelas Burhanuddin.Kondisi perekonomian secara umum masih cukup terkendali. Ada tiga kebijakan yang akan dilakukan oleh Bank Indonesia yakni: Pertama, menciptakan stabilitas makro ekonomi yang berkelanjutan. Kedua, aktivitas pertumbuhan ekonomi untuk mencapai target yang telah ditentukan yakni sebesar 5,5 persen. Ketiga, kesinambungan dalam upaya untuk menyerap tenaga kerja.Bank Indonesia masih optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2005 akan tumbuh sebesar 5,5 persen dan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tersebut adalah konsumsi dan investasi yang terus meningkat."Hitungan BI masih menunjukan pencapaian ekonomi berada pada 5,5 persen dan kalau diteliti lebih dalam dari faktor yang mempengaruhi pertumbuhan konsumsi berada di depan kemudian yang kedua adalah investasi," terang Gubernur BI.Sementara itu mengenai inflasi, BI mencatat, akibat kenaikan BBM maka tingkat inflasi pada triwulan I/2005 mencapai 8,81 persen (year on year). "Tingginya inflasi ini disebabkan oleh kenaikan harga minyak, inflasi di AS, suku bunga yang meningkat dan harga komoditas yang meningkat.Nilai inflasi ini, jauh berada di atas target Bank Indonesia yakni maksimum 7 persen. Menurutnya tingginya inflasi juga disebabkan oleh ekspektasi masyarakat yang meningkat dan situasi yang kurang stabil dan juga nilai tukar yang cenderung melemah.
(san/)











































