Level Permodalan Bank di RI Tertinggi se-Asean

Level Permodalan Bank di RI Tertinggi se-Asean

- detikFinance
Selasa, 12 Apr 2005 17:53 WIB
Jakarta - Kinerja perbankan nasional sampai dengan triwulan I/2005 cukup baik, hal ini ditandai dengan peningkatan rasio kecukupan modal (CAR), kredit bermasalah (NPL) yang relatif stabil dan rasio kredit (LDR) yang meningkat. Bahkan, kondisi permodalan perbankan di Indonesia yang paling tinggi di kawasan Asean."Situasi perbankan secara umum saya masih bisa katakan cukup stabil dengan tingkat pemenuhan modal yang meningkat. Kalau dulu CAR perbankan 19 persen sekarang mencapai 22 persen," ujar Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah saat jumpa pers di Gedung Bank Indonesia, Jl MH Thamrin, Jakarta, Selasa (12/4/2005).Berdasarkan data Februari 2005 jumlah kredit yang diberikan tercatat mencapai Rp 601,8 triliun. Mengenai target pertumbuhan kredit BI optimis angka pertumbuhan kredit sebesar 23,2 persen sesuai rencana bisnis 2005 akan tercapai.Disisi kualitas kredit, kredit bermasalah (NPL) relatif stabil hingga 6 persen. Sementara NPL Nett membaik menjadi 1,7 persen. Sementara itu mengeni rentabilitas perbankan relatif stabil seperti ditunjukan oleh return of asset (ROA) dan NII maing-masing mencapai 3,4 persen dan 6,7 persen. Dari tingkat profitabilitas, Burhanuddin mengatakan, "profitabilitas sangat baik dan menjanjikan sehingga kondisi perekonomian saya anggap cukup baik".Nilai Tukar RupiahMengenai nilai tukar rupiah, pada triwulan I/2005 mengalami tekanan depresiatif namun volatilitasnya relatif rendah. Rata-rata nilai tukar rupiah tercatat sebesar Rp 9.279 per US$ 1. Kencenderungan pelemahan rupiah sebagai akibat tingginya permintaan akibat meningkatnya impor untuk kebutuhan investasi dan konsumsi selain juga melonjaknya kebutuhan valas oleh Pertamina karena kenaikan harga minyak dunia.Disisi pasokan, aliran devisa hasil ekspor masih belum optimal. Aliran modal masuk masih terbatas dan didominasi oleh portofolio investasi serta sebagian devisa migas untuk pemerintah masuk ke cadangan devisa. (san/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads