Hal tersebut diungkapkan Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung usai RDG di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (19/1/2017).
Juda menyebutkan, peningkatan inflasi pada 2017 karena terpengaruh komponen harga yang diatur pemerintah atau administered price. "Terkait dengan inflasi, di 2017 barang kali tidak serendah di 2016," kata Juda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak hanya itu, harga pangan yang bergejolak (volatile food) harus dipastikan tetap berjaga. Sepanjang 2016, administered price berada di level 0,21%.
"Tahun ini dengan adanya administered price ini perlu kami perhatikan. Tapi perlu digaris bawahi bahwa ini kelanjutan reformasi yang akan dilakukan pemerintah, subsidi. Ini positif dari sisi fiskal dan positif dalam konteks konsistensi reformasi subsidi," kata dia.
Inflasi pada pekan kedua Januari 2017 diproyeksi sebesar 0,69%. Tarif dasar listrik dan harga pangan seperti cabai menjadi pendorong utama inflasi. (mkj/mkj)











































