Saat ini, BPJS Ketenagakerjaan sendiri sudah mengumpulkan kepesertaan aktif mencapai 22,6 juta orang di tahun 2016, dengan dana kelolaan mencapai Rp 260 triliun.
"Target kepesertaan tahun ini 25,2 juta dengan dana kelolaan Rp 297 triliun," kata Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Agus Susanto di Kemendes, Jakarta, Senin (23/1/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami akan bersinergi dengan seluruh Kementerian/Lembaga, badan dan perusahaan untuk mengikutsertakan seluruh tenaga kerjanya, khususnya untuk tenaga kerja non ASN (Aparatur Sipil Negara) untuk dapat jaminan sosial," tutur Agus.
Perlindungan jaminan ketenagakerjaan sendiri penting, karena resiko sosial ekonomi yang terjadi akibat kecelakaan, kematian, memasuki hari tua ataupun pensiun dapat menyebabkan kerentanan peserta untuk berhenti pendapatan tetapnya. Sehingga sangat rentan dalam menopang keberlangsungan ekonominya.
Hal ini pula yang mendorong BPJS Ketenagakerjaan membentuk agen-agen di daerah, melalui program PERISAI (Penggerak Jaminan Sosial Indonesia), yang saat ini tengah dilakukan percobaan di dua kota, yakni Yogyakarta dan Jember.
Agen-agen inilah yang akan memberikan sosialisasi, melakukan rekruitmen dan collecting pembayaran jaminan sosial kepada BPJS Ketenagakerjaan.
"Jadi memang tujuan utama kita adalah perluasan cakupan kepesertaan. Ini mengandung arti jumlahnya ditambah, dan area kepesertaannya diperluas. Tentunya kita tidak bisa bekerja sendiri, kami sangat tidak mungkin bisa memiliki jangkauan-jangkauan sampai ke desa-desa seluruh Indonesia, oleh karenanya kami harus bekerja sama dengan semua pihak Kementerian/Lembaga untuk bisa memperluas," ucap Agus.
"Dengan metode agency, kita harapkan itu yang bisa menopang sustainability karena para agen-agen ini akan terus melakukan pendampingan, memonitor untuk membayar biaya kepesertaan setiap bulannya," pungkasnya. (dna/dna)











































