"Banyak yang ragu konversi syariah karena belum tahu apakah nasabahnya mau konvensional saja atau syariah. Jangan-jangan nanti banknya mengecil kalau konversi ke syariah," kata Adiwarman, di Beranda Kitchen, Jakarta Selatan, Rabu (25/1/2017).
Untuk mencari tahu tingkat keragu-raguan nasabah, ia menyebut akhirnya OJK melakukan survei terhadap nasabah Bank Aceh. Hasilnya, hanya 0,4% yang ragu-ragu selain itu tidak ada yang mau keluar dari skema perbankan syariah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, dia menyebut di daerah perbatasan seperti Aceh dan Sumatera Utara diungkapkan adanya warga yang masih meragukan perbankan syariah karena belum teredukasi dengan baik. Namun, setelah dibsrikan penjelasan akhirnya sebagian warga mau menggunakan layanan keuangan syariah.
"Di daerah perbatasan Aceh dan sumut. Kita lakukan survei lanjutan, mereka yang ragu-ragu itu karena tidak mengetahui. Ini literasinya kurang, di perbatasan itu tidak banyak cabang kantor bank syariah sehingga mereka tidak tahu. Setelah diberi penjelasan mereka mau," ujarnya.
Ia mengatakan, saat ini baru ada Bank Aceh yang mengkonversi menjadi syariah. Diharapkan akan ada perbankan lainnya yang mengikuti jejak tersebut.
"Tantangan kita sama-sama, tahun kmarin Bank Aceh konversi jadi tambahan Rp 20 triliun (Aset). Tahun ini insya Allah Bank NTB Rp 8 triliun. Mudah-mudahan akan diikuti lainnya seperti Bank Nagari sehingga ada pertambahan signifikan, anorganik karena proses konversi," ujarnya.
Jumlah Nasabah Syariah Lebih Tinggi Ketimbang Pemahaman
Berdasarkan data survei OJK baru ada 11,06% nasabah pengguna produk dan jasa keuangan syariah. OJK menilai indeks pengguna produk dan jasa syariah lebih banyak daripada jumlah orang yang memahaminya.
Misalnya Papua tingkat literasinya masih 1,09% tetapi penggunanya 5,82%. Pengamat Adiwarman menyebut hal ini karena beberapa kantor cabang perbankan syariah yang dibuka di Papua langsung cepat balik modal (BEP). Hal itu karena kebanyakan nasabahnya merupakan seorang muslim yang menjadi pedagang di Papua.
"Walaupun penduduk bukan mayoritas islam, tapi pedagangnya mayoritas islam. Bali itu pedagangnya selain dikuasai Australia juga dikuasai 3 golongan: Jawa, Padang, Bugis. dan mereka semua muslim. Begitu bank syariah buka, mereka langsung berbondong-bondong ke sana. Papua di Biak, Manokwari, dimana perdagangan itu tinggi dikuasai oleh 3 golongan itu. Itu sebabnya, demand nya tinggi, BEPnya cepat," ujar Adiwarman.
Sementara itu, hal yang berbeda terjadi sebaliknya di Jawa Timur. Tingkat literasi masyarakat Jatim terhadap perbankan syariah sebesar 29,35%, tetapi penggunanya baru 12,21%.
Hal itu menurut Adi karena penduduk Jatim memiliki pemahaman agama islam yang kuat sehingga seringkali nasabah lebih pintar daripada bankir.
"Di Jatim memang pengalamannya unik. Terutama di daerah tapal kuda, banyak dari pesantren-pesantren sangat memahami bank syariah sehingga dari segi syariah itu kadang-kadang bank syariah sulit penetrasi karena yang mau dijual calon nasabah lebih pintar daripada bankirnya. Kebanyakan mereka menchallenge pengetahuan bankirnya, benar syariah atau tidak," kata Adi.
Oleh karena itu para bankir melakukan upaya mendekati kyai di pondok pesantren untuk menjaring nasabah baru. Hal itu untuk meyakinkan nasabahnya untuk mau membula rekening bank syariah.
"Sehingga di Jatim menggunakan strategi agak berbeda yaitu pendekatan ke Pondok pesantren karena di Jatim itu kalau kyai bisa diyakinkan maka ke bawahnya bisa diyakinkan," ungkapnya. (ang/ang)











































