"Pasar dunia ada risiko itu, kemungkinan suku bunga The Fed. bisa jadi berimbas ke yield SBN (Surat Berharga Negara) Indonesia kalau kita ngeluarin utang," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Kemenkeu Suahasil Nazara di kantornya, Jakarta, Jumat (27/1/2017).
Diketahui, beragam proyeksi kemudian muncul soal waktu dari kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akhir tahun lalu pemerintah sudah menerbitkan global bond. Masih ada tiga jenis surat utang berdenominasi valas akan diterbitkan, yaitu sukuk global, samurai bond (yen) dan euro bond (euro).
"Nanti kita liat kapan dia akan naikkan, assessment-nya banyak. Sebaiknya kita terbitkan utang saat pasar lagi calm, nggak lagi volatile," jelasnya.
Pada sisi lain, pemerintah juga harus mempertimbangkan kebutuhan dana untuk pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Terutama pajak. Surat utang tidak bisa begitu saja diterbitkan ketika memang penerimaan sedang tinggi.
"Jangan cuma ngejar suku bunga murah, kita naikkan sekian. Begitu kita keluarin harus bayar sekian. Jadi ini harus dihitung tiap bulan berapa, pajak yang masuk berapa, potensi berapa," papar Suahasil. (mkj/mkj)











































