Pemerintah akan Lelang SUN dan SPN pada 26 April
Kamis, 14 Apr 2005 11:27 WIB
Jakarta - Pemerintah akan melakukan lelang surat utang negara (SUN) dan surat perbendaharaan negara (SPN) pada 26 April 2005 mendatang. Namun mengenai target indikatifnya serta jenis obligasi yang akan diterbitkan belum bisa dijelaskan."Lelang obligasi rencananya akan dilakukan pada 26 April 2005. Baik jumlah atau jenisnya itu nanti. Kita umumkan seminggu sebelum tanggal lelang," kata Kasubdit Manajemen Portofolio dan Risiko Depkeu Rachmat Wijayanto saat jumpa pers di Gedung Depkeu, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (14/4/2005).Mengenai berapa porsi SPN maupun SUN, Rachmat Wijayanto belum bisa mengatakan karena belum ditetapkan oleh Menkeu Jusuf Anwar. Sejauh ini total obligasi yang telah diterbitkan pemerintah di pasar domestik jumlahnya mencapai Rp 8 triliun.Dengan adanya penerbitan obligasi internasional US$ 1 miliar, maka total obligasi yang telah diterbitkan pemerintah itu mencapai Rp 17 triliun. "Dalam APBN 2005 anggaran yang dialokasikan untuk penerbitan obligasi sebesar Rp 43 triliun. Jika dikurangi Rp 17 triliun maka sisa yang belum diterbitkan sekitar Rp 25 triliun. Itu yang akan harus kita cari," ujarnya.Obligasi InternasionalSementara itu menurut Kepala Badan Pengkajian Ekonomi Keuangan dan Kerjasama Internasional (Bepekki) Depkeu Anggito Abimanyu, penerbitan obligasi internasional dimaksudkan untuk menambah cadangan dana masuk dalam valuta asing. Menyangkut yield (imbal hasil) sebesar 7,375 persen, Anggito menganggap bahwa hal itu masih wajar karena saat ini pasar yang tidak stabil."Mahal-murah itu relatif. Kalau yang kita bayar itu kuponnya bukan yield-nya. Jadi yang kita bayar kupon 7,250 persen," terangnya.Dikatakan Anggito Abimanyu, nilai nominal dari obligasi internasional ini lebih tinggi akan tetapi cost-nya lebih rendah daripada negara lain. "Total cost-nya kan US$ treasury rate ditambah spread. Tetapi spread INDO-15 lebih baik dibandingkan negara lain," tegas Anggito Abimanyu.Bila dibandingkan INDO-15 dengan INDO-14 yang diperdagangkan di pasar sekunder, Anggito menilai tidak jauh berbeda dari segi yield. "INDO-14 kalau kita hitung total cost-nya 7,31 persen itu sudah termasuk US$ treasury rate. Berarti tidak jauh dengan INDO-15 dan lebih murah dari negara lain," demikian Kepala Bapekki.
(san/)











































