Follow detikFinance
Senin 13 Feb 2017, 18:38 WIB

Bidik Laba Tumbuh 20%, BTN Tambah Porsi KPR Non Subsidi

Danang Sugianto - detikFinance
Bidik Laba Tumbuh 20%, BTN Tambah Porsi KPR Non Subsidi Foto: Danang Sugianto/detikFinance
Jakarta - Setelah berhasil mencatatkan kinerja yang baik sepanjang 2016, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) optimistis bisa meneruskan tren positif tersebut. BUMN ini pun masih mengandalkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebagai motor utama kinerja keuangan.

Direktur Utama BTN Maryono menjelaskan, bank pelat merah itu menargetkan laba bersih tahun ini tumbuh sekitar 20% dari 2016. Tercatat laba bersih BTN di 2016 sebesar Rp 2,61 triliun atau meningkat 41,49% dibanding laba bersih di tahun sebelumnya sebesar Rp 1,85 triliun.

"Laba kita meningkat 41% sebagain besar dari pendapatan bunga yang meningkat 14%. Padahal kita tahu bahwa pricing dari kredit kita menurun, tapi pendapatannya nilainya semakin meningkat. Artinya banyak nasabah yang mulai bayar bunga baik untuk kredit baru maupun kredit yang sudah restrukturisasi," tuturnya di Gedung BTN, Jakarta, Senin (13/2/2017).

Tercatat penyaluran kredit BTN pada 2016 meningkat 18,34% dari Rp138,95 triliun menjadi Rp 164,44 triliun. Sementara kredit perumahan BTN tercatat menjadi penopang utama kredit BTN.

Sebab kredit perumahan BTN mencapai 89,97% dari total penyaluran atau sebesar Rp 147,94 triliun. Angka tersebut juga meningkat 18,43% dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 124,92 triliun.

Pertumbuhan sektor tersebut paling besar dari kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi yang naik 30,57% dari Rp 43,52 triliun menjadi Rp 56,83 triliun. Selain itu aset perseroan juga tumbuh 24,66% dari Rp 171,8 triliun menjadi Rp 214,16 triliun.

Sementara Direktur Consumer BTN Handayani menambahkan, untuk KPR non subsidi pihaknya menargetkan tahun ini tumbuh 33%, sedangkan untuk KPR subsidi ditargetkan tumbuh 17%.

"Komposisi di 2016 itu antara subsidi dan non subsi 50-50. Tapi untuk meningkatkan profitable maka akan sedkit diubah, yang subsidi 45%, yang non subsidi 65%, secara amount total," tambahnya.

Sementara itu catatan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) BTN pada 2016 juga meningkat diatas rata-rata industri. DPK BTN tumbuh 25,4% dari Rp 127,74 triliun menjadi Rp 160,19 triliun.

Capaian kredit dan DPK tersebut juga diimbangi dengan penurunan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). Tercatat NPL secara gross berhasil ditekan dari 3,42% menjadi 2,84%, sedangkan NPL net turun dari 2,11% menjadi 1,85%.

Tekan NPL

Selain itu, BTN telah menyiapkan strategi untuk meredam kenaikan kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL). BTN memberikan persyaratan bagi calon debitur untuk menabung minimal selama 3 bulan.

Dengan begitu pihaknya bisa memperkirakan rata-rata pemasukan yang dimiliki pekerja informal.

"Jadi kita memahami dulu para calon debitur bagaimana casflow dari caon debitur di sektor informal ini," terang Handayani.

BTN juga akan bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM untuk mengidentifikasi pengusaha UKM yang telah mendapatkan pelatihan dari program kementerian tersebut.

Selain itu BTN juga akan menggandeng asosiasi-asosiasi pedagang serta koperasi untuk mengidentifikasi anggotanya. Sehingga bisa ketahuan mana-mana debitur yang memiliki performa pendapatan yang baik.

"Kita juga menggunakan pola laku pandai. Di mana ketua paguyuban-paguyuban tersebut menjadi update nasabah kita. Sehingga ini menjadi network untuk financial inclution dimana kita menyediakan dalam bentuk saving account dan juga KPR mikro untuk melakukan pemberian kredit," tukasnya. (ang/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed