Ingin Tahu Data Ekonomi RI Terkini, Ini Penjelasan Gubernur BI

Ingin Tahu Data Ekonomi RI Terkini, Ini Penjelasan Gubernur BI

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Kamis, 16 Feb 2017 18:48 WIB
Ingin Tahu Data Ekonomi RI Terkini, Ini Penjelasan Gubernur BI
Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - Perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik, meskipun berada di tengah ketidakpastian global. Ini tergambar dari sisi pertumbuhan ekonomi, inflasi, hingga defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

"Sejalan dengan membaiknya perekonomian global, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan membaik dengan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan yang tetap terjaga," kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo dalam konferensi pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (16/2/2017).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 berhasil tumbuh 5,02% (yoy), membaik dibandingkan dengan tahun 2015 yang tumbuh sebesar 4,88% (yoy). Konsumsi rumah tangga tumbuh cukup kuat didukung oleh terjaganya daya beli seiring dengan inflasi yang terkendali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kinerja ekspor menunjukkan perbaikan ditopang meningkatnya volume perdagangan dunia serta harga beberapa komoditas seperti batubara dan minyak sawit. Begitu juga pada sisi investasi yang menunjukkan perbaikan. Pada 2017 diproyeksikan ekonomi tumbuh 5-5,4%.

"Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi swasta yang masih tumbuh kuat, peningkatan konsumsi pemerintah serta perbaikan investasi baik swasta maupun pemerintah. Pertumbuhan ekspor diperkirakan juga mengalami peningkatan, yang diiringi dengan impor sejalan dengan kenaikan permintaan domestik," paparnya.

Inflasi tetap terkendali, meskipun mengalami tekanan yang meningkat di awal tahun 2017. Inflasi Januari 2017 tercatat sebesar 0,97% (mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 0,42% (mtm). Kenaikan inflasi tersebut terutama disumbang oleh kelompok administered prices dan kelompok inti. Sementara itu, harga bahan pokok relatif terkendali dan tercatat rendah

"Inflasi administered prices meningkat dari bulan sebelumnya terutama didorong oleh kenaikan biaya administrasi perpanjangan STNK, tarif listrik, dan Bahan Bakar Khusus (BBK). Inflasi inti mengalami peningkatan namun masih terkendali yaitu sebesar 0,56% (mtm) atau 3,35% (yoy)," jelas Agus. Sampai dengan akhir tahun diproyeksi inflasi tetap pada kisaran 4 plus minus 1%.

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan IV 2016 surplus sebesar US$ 4,5 miliar,akibat defisit transaksi berjalan (CAD) yang menurun dan surplus Transaksi Modal dan Finansial (TMF) yang cukup besar.

CAD sebesar US$ 1,8 miliar atau 0,8% terhadap PDB, lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar US$ 4,7 miliar atau 1,9% terhadap PDB, ditopang oleh perbaikan kinerja neraca perdagangan barang dan pendapatan primer.

TMF mencatat surplus US$ 6,8 miliar, terutama bersumber dari surplus investasi lainnya sejalan dengan berlanjutnya repatriasi dana tax amnesty.

"Untuk keseluruhan tahun, kinerja NPI 2016 mencatat surplus sebesar US$ 12,1 miliar, membaik secara signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat defisit US$ 1,1 miliar," terangnya.

Cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2016 tercatat US$ 116,4 miliar. Cadangan devisa kembali meningkat pada Januari 2017 menjadi US$ 116,9 miliar. Posisi cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai 8,7 bulan impor atau 8,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. (mkj/dna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads