Follow detikFinance
Kamis 16 Feb 2017, 19:03 WIB

Analisa BI Soal Kesiapan RI Hadapai Trump Effect

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Analisa BI Soal Kesiapan RI Hadapai Trump Effect Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - Bank Indonesia (BI) terus mengamati perkembangan dari Amerika Serikat (AS). Khususnya terkait kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) sebanyak tiga kali pada tahun ini.

Kondisi tersebut tidak terlepas dari Trump Effect atau rencana kebijakan Presiden AS Donald Trump yang agresif mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satunya rencana pemangkasan pajak dan peningkatan belanja negara.

"Mungkin saja di FOMC Maret, fed fund rate dinaikkan. Jadi kenaikan itu menjadi 3 kali selama satu tahun, bukan dua kali. Tentu ini menjadi perhatian kita," papar Gubernur BI Agus Martowardojo dalam konferensi pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (16/2/2017).

Ada beberapa kebijakan lain yang turut diwaspadai. Di antaranya adalah terkait dengan relaksasi peraturan sistem keuangan di AS dan proteksionisme pada sisi perdagangan luar negeri.

"Hal-hal ini tentu akan berdampak pada stabilitas sistem keuangan dunia dan akan berdampak ke Indonesia," ungkap Agus.

Baca juga: Cobaan Terberat Ekonomi Global Bernama Trump

Sebagai antisipasi, fundamental ekonomi Indonesia tentunya harus diperkuat. Ini akan berkaitan dengan persepsi investor sebelum menempatkan modalnya. Termasuk yang sekarang sudah berada di Indonesia, agar tidak kemudian kabur.

Agus menjelaskan, selama 2016 data-data ekonomi dalam negeri menunjukkan perbaikan. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,02% atau lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 4,88%. Padahal negara berkembang lainnya banyak yang terjatuh ke situasi resesi.

Konsumsi rumah tangga tumbuh cukup kuat didukung oleh terjaganya daya beli seiring dengan inflasi yang terkendali. Kinerja ekspor menunjukkan perbaikan ditopang meningkatnya volume perdagangan dunia serta harga beberapa komoditas seperti batubara dan minyak sawit. Perbaikan kinerja investasi terutama didorong oleh pertumbuhan investasi non bangunan dalam bentuk kendaraan dan peralatan lainnya, sementara investasi bangunan melambat sejalan dengan lebih rendahnya ekspansi fiskal.

Dari sisi spasial, pertumbuhan ekonomi di Sumatera dan Jawa mengalami peningkatan, sementara Kawasan Timur Indonesia (KTI) melambat.

"Ke depan, pertumbuhan ekonomi 2017 diperkirakan berada pada kisaran 5,0-5,4% (yoy). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi swasta yang masih tumbuh kuat, peningkatan konsumsi pemerintah serta perbaikan investasi baik swasta maupun pemerintah. Pertumbuhan ekspor diperkirakan juga mengalami peningkatan, yang diiringi dengan impor sejalan dengan kenaikan permintaan domestik," terangnya.

Inflasi berhasil dikendalikan pada level 3,02% selama 2016 yang juga lebih rendah dari tahun sebelumnya. Di Januari 2017 ada tekanan pada inflasi dari kebijakan pemerintah sehingga terealisasi cukup tinggi, yaitu 0,97%.

"Di 2017 ada sedikit kebijakan tapi masih diyakini tingkat inflasi sesuai target yang disepakati," ujar Agus.

Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) 2016, surplus sebesar US$ 12,1 miliar, membaik secara signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat defisit US$ 1,1 miliar. Cadangan devisa kembali meningkat pada Januari 2017 menjadi US$ 116,9 miliar. Posisi cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai 8,7 bulan impor atau 8,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Bank Indonesia tetap mewaspadai sejumlah risiko, baik yang bersumber dari global terutama terkait arah kebijakan AS dan risiko geopolitik di Eropa, maupun dari dalam negeri terutama terkait dengan dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi," pungkasnya. (mkj/dna)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed