Selain itu, pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga disebabkan karena adanya pembayaran Utang Luar Negeri (ULN) pemerintah di akhir 2016.
"Pada triwulan IV-2016 secara point to point rupiah melemah sebesar 3,13% menjadi Rp 13.473 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah berasal dari meningkatnya ketidakpastian global terkait pilpres AS, kenaikan Fed Fund Rate (FFR), dan meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri pada akhir tahun," tutur Gubernur BI Agus Martowardojo dalam jumpa pers di Gedung Thamrin BI, Jakarta Pusat, Kamis (16/2/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penguatan ini seiring dengan aliran modal asing yang kembali masuk ditopang oleh persepsi positif investor terhadap perekonomian domestik," kata Agus.
BI juga mewaspadai perkembangan risiko ketidakpastian keuangan global dan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar. (mkj/mkj)











































