Untuk itu, Direktur Utama BNI Multifinance mengatakan ia mengusulkan penambahan dana dengan skema pinjaman langsung atau direct loan sebesar Rp 850 miliar kepada induk BNI. Saat ini usulan tersebut masih dalam proses. Namun, jika sudah turun bisa di-convert menjadi modal agar bisa membiayai infrastruktur.
"Kalau sudah turun rencananya kami bisa convert jadi modal sehingga terkumpul Rp 1 triliun jadi bisa biayai proyek infrastruktur," ujar Suwaluyo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang namanya infrastruktur itu dimana-mana lagi dibangun. Kita juga membiayai lagi bangun pembiayaan di penunjang infrastruktur itu, tapi kalau lihat celah-celah potensi yang baik. Makanya oleh pihak OJK itu suruh Multifinance bisa masuk pembiayaan infrastruktur dengan catatan modalnya bisa Rp 1 triliun, itu kita target 2019 atau 2020 itu," ujarnya.
Saat ini diakui baru membiayai sektor penunjang infrastruktur. Misalnya ketika perusahaan A membutuhkan dana untuk membeli dump truk sebagai alat pengangkut batu untuk mendukung pembangunan proyeknya.
Ia mengatakan, BNI Multifinance telah menyalurkan 10%-15% dari pembiayaan tahun 2016 Rp 428 atau nilainya Rp 30 miliar-Rp 35 miliar kepada sektor infrastruktur penunjang di tahun 2016. Di tahun 2017 ini dia membidik Rp 50 miliar-Rp 60 miliar untuk membiayai infrastruktur penunjang.
"Kalau kemarin sekitar 10%-15%, nilainya sekitar Rp 30-35 miliar karena ada beberapa. Kalau sekarang mungkin sekitar di atas Rp 50-60 miliar karena sesuai fokus BNI juga fokus ke infrastruktur," ujar Rana. (dna/dna)











































