Indikasi kenaikan, kata Agus terlihat dari pidato Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) Janet Yellen pada bulan lalu. Di mana juga seiring dengan perbaikan data-data ekonomi AS di awal tahun.
"Jadi untuk itu tentu merupakan satu perkembangan yang kita perlu waspadai," ungkap Agus di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (6/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau seandainya ada fed fund rate yang meningkat gitu, kemudian akan membuat minat dunia adalah untuk ke dolar AS, kemudian dolar AS terjadi penguatan," imbuhnya.
Pergerakan rupiah harus stabil meski ada guncangan dari eksternal. BI pun siap untuk selalu berada di pasar mengambil langkah intervensi lewat berbagai instrumen yang sudah tersedia sesuai aturan.
"Kita akan jaga agar tetap dalam kondisi volatilitasnya terjaga. Jadi kalau terjadi volatilitas yang tinggi pasti BI akan merespons," tegas Agus.
Kestabilan nilai tukar bisa didorong oleh data ekonomi dalam negeri yang terus membaik. Mulai dari sisi pertumbuhan ekonomi, inflasi, hingga defisit transaksi berjalan (currenct account deficit/CAD).
"Kita meyakini dampaknya tidak besar kepada Indonesia karena di Indonesia stabilitas sistem keuangan dan kinerja makro ekonominya cukup baik," tukasnya. (mkj/hns)











































