Dalam kesempatan itu, Sri Mulyani mendapat banyak pertanyaan tentang kondisi perekonomian Indonesia. Baik secara fiskal maupun moneter.
"Mereka lebih kepada melihat perekonomian Indonesia, tentu saja dari aspek keseluruhan makro ekonominya, indikatornya, kemudian dilihat dari sisi fiskalnya, APBN," ungkap Sri Mulyani, di Gedung Djuanda, Kemenkeu, Jakarta, Selasa (14/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2016, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,02%. Pada periode yang sama, inflasi juga terjaga pada 3,02%. Begitu juga dengan kondisi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) di kisaran 2% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Mereka mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi 5,02% di 2016 itu termasuk paling tinggi dan oleh karena itu para bond holder sebetulnya kalau melihat kinerja perekonomian Indonesia, apakah dari pertumbuhan, dari angka desifit APBN, dari neraca pembayaran, defisit transaksi berjalan, dari capital inflow yang berasal dari FDI, kemudian maupun dari non FDI. Mereka cukup comfortable," jelasnya.
Sri Mulyani merasa kalangan investor tidak mengalami kekhawatiran yang berlebihan. Walaupun kondisi perekonomian global masih dalam ketidakpastian. Misal saja dari AS, di mana ada rencana kenaikan suku bunga acuan.
"Jadi pertanyaannya dari sisi kebijakan makro sebetulnya cukup bisa diantisipasi. Jadi umpanya pertanyaan mengenai proyeksi penerimaan negara, bagaimana BI akan merespons terhadap kalau terjadi kenaikan suku bunga maupun dari sisi inflasi, bagaimana kebijakan nilai tukar mereka, saya rasa itu masih dalam kerangka yang biasanya kita respons," tukasnya. (mkj/dnl)











































