Sebesar 72,6% dari total kredit atau Rp 287,85 triliun disalurkan ke sektor business banking yang didominasi kredit korporasi 23,7% dari total kredit dan ke BUMN 20%.
Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta mengungkapkan, menggeliatnya pertumbuhan kredit BNI pada kuartal I-2017 salah satunya disebabkan penyaluran kredit ke infrastruktur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Herry menambahkan penyaluran kredit tersebar ke pembangunan jalan tol sebesar 25%, pembangkit listrik 22%. Sedangkan sisanya terbagi ke infrastruktur telekomunikasi dan migas.
"Infrastruktur ini di tol sekitar 25% di powerplant 22%. Telekomunikasi 13%, oil and gas sama dengan telekomunikasi," ujar Herry.
Direktur Utama BNI Ahmad Baiquni menambahkan, pertumbuhan kredit BNI di kuartal I-2017 cukup signifikan disebabkan karena belum menggeliatnya pertumbuhan kredit BNI jika dibandingkan kuartal I tahun lalu.
"Kalau year to date (ytd) sendiri sebenarnya dibandingkan posisi akhir tahun mengalami kenaikan sangat kecil sekali," tutur Baiquni.
Kredit Bermasalah Naik Jadi 3%
Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) BNI pada kuartal I-2017 mengalami kenaikan menjadi 3% dibandingkan periode yanga sama tahun lalu sebesar 2,8%. Naiknya rasio kredit bermasalah tidak terlepas dari salah satu perusahaan telekomunikasi Trikomsel Oke yang berada di ambang kepailitan.
Salah satu perusahaan telekomunikasi ini mengalami kesulitan pembayaran kredit karena dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).
"Trikomsel saat ini berada di dalam mekanisme kepailitan. Kreditur duduk dalam kesepakatan dengan pengadilan niaga untuk melaksanakan PKPU tersebut," jelas Direktur Bisnis Menengah BNI Putrama Wahyu Setiawan dalam jumpa pers di Kantor Pusat BNI
Akibatnya kegagalan pembayaran utang Trikomsel ke BNI membuat rasio kredit bermasalah meningkat di kuartal I-2017. Putrama menambahkan, BNI sudah melakukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang cukup baik untuk mengantisipasi kenaikan rasio kredit bermasalah di kemudian hari. Hal ini sekaligus mengindikasikan tingkat kehati-hatian yang tinggi dalam pengelolaan kredit.
"Kecukupan coverage ratio pada kuartal I naik 147% dibandingkan posisi kuartal I-2016 142,4%," ujar Putrama.
Direktur Utama BNI Achmad Baiquni menambahkan bahwa pihaknya kini tengah menyelesaikan permasalahan ini. Di sisi lain, BNI juga merasa penyelesaian PKPU Trikomsel merugikan BNI.
"Sekarang koordinasi apa bisa menempuh langkah hukum karena penyelesaian PKPU merugikan bank. Jangka waktu panjang dan bunga yang rendah tidak sesuai dengan keinginan," tutur Baiquni.
(ang/ang)











































