Total kredit dan pembiayaan perseroan secara keseluruhan mencapai Rp 169,73 triliun. Jumlah ini naik 18,71% dibanding kuartal I 2016 (yoy), melebihi rata-rata pertumbuhan kredit industri 8,4%.
"Di tengah kondisi ekonomi yang masih menunjukkan perlambatan pada awal tahun, kami mencatatkan pertumbuhan laba bersih dan DPK di atas 20% secara year on year," katanya dalam jumpa pers di Menara BTN, Jakarta, Senin (17/4/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun kenaikan pertumbuhan kredit ini kata dia didorong kredit perumahan yang mendominasi portofolio pinjaman Perseroan atau sebesar 90,35%. KPR subsidi menjadi penyokong terbesar pertumbuhan kredit perumahan BTN yang tercatat naik sebesar 29,62% (yoy).
"Per 31 maret 2017, kredit konstruksi juga tumbuh 18,44% secara yoy, dan komersial tumbuh 20,57% (yoy)," ucapnya.
Pertumbuhan kredit dan pembiayaan tersebut juga turut mengerek kenaikan total aset Perseroan sebesar 20,12% secara yoy menjadi Rp 214,31 triliun. Adapun dari sisi kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL), Bank BTN mencatatkan NPL sebesar 3,34% atau turun dari periode yang sama tahun sebelumnya yakni 3,59%.
Dengan capaian tersebut, pendapatan bunga bersih bank berkode BBTN itu tumbuh 13,84% (yoy) dari Rp 1,79 triliun menjadi Rp 2,04 triliun di akhir Maret 2017. Adapun pendapatan bunga bank pelat merah tersebut ditopang oleh pertumbuhan total kredit dan pembiayaan yang naik sebesar 18,71% tadi.
Laba Unit Usaha Syariah
Capaian laba bersih Unit Usaha Syariah (UUS) BTN sejalan dengan pertumbuhan positif unit konvensionalnya. Sepanjang triwulan I-2017 atau tiga bulan pertama tahun ini, UUS BTN menorehkan pertumbuhan laba bersih sebesar 33,41% yoy dari Rp 70,3 miliar menjadi Rp 93,79 miliar.
Maryono menjelaskan perolehan laba bersih tersebut didukung pertumbuhan pembiayaan yang tinggi. Pertumbuhan pembiayaan yang tinggi pun mampu dijaga Perseroan dengan menjaga kualitas pembiayaan atau rasio pembiayaan bermasalah (NPF/non performing financing.
Per kuartal I tahun 2017, pembiayaan syariah tercatat naik sebesar 27,43% (yoy) dari Rp 11,63 triliun menjadi Rp 14,81 triliun. Kemudian, kualitas pembiayaan terpantau membaik dengan NPF yang turun dari 1,62% per 31 Maret 2016 menjadi 0,95% di periode yang sama tahun berikutnya.
"Laba bersih unit syariah juga meningkat sebesar 33,41%, yaitu lebih tinggi dibandingkan dengan konvensional. Sehingga unit usaha syariah, NPF nya juga menunjukan penurunan yang luar biasa. Kalau bulan Maret 2016, NPF nya 1,62%, sekarang sudah di bawah 1% yaitu 0,95%. Sedangkan netnya itu dari 0,9% menjadi 0,62% di tahun 2017," katanya.
Kenaikan pembiayaan tersebut juga turun mendukung peningkatan aset UUS sebesar 20,46% yoy menjadi Rp 17,8 triliun pada kuartal I-2017.
DPK yang dihimpun UUS BTN pun meningkat 20,15% yoy dari Rp 12,1 triliun menjadi Rp 14,53 triliun pada kuartal I/2017. Pertumbuhan terbesarnya, sebut Maryono, disumbang dari kenaikan tabungan dan giro.
Direktur BTN, Oni Febriarto Rahardjo mengatakan akan terus menjaga kinerja pertumbuhan penyaluran KPR syariah di level yang sama dengan tahun lalu dengan memfokuskan pada kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi.
"Dengan kita melihat konvensional ataupun syariah maka market share BTN masih menjadi pemimpin yaitu sebesar 34,21%. Jadi BTN masih jadi market leader dan juga KPR FLPP, masih sangat tinggi yaitu 96,29%," pungkasnya. (ang/ang)











































