Anton Gunawan: IHSG & Rupiah Anjlok Bukan Akibat SBI

Anton Gunawan: IHSG & Rupiah Anjlok Bukan Akibat SBI

- detikFinance
Minggu, 24 Apr 2005 12:46 WIB
Jakarta - Jatuhnya indeks saham dan rupiah pada perdagangan akhir pekan lalu diyakini bukan akibat naiknya suku bunga sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang sebesar 17 basis poin pada posisi 7,7 persen akan tetapi karena faktor regional."Kalau kita bicara teori, anjloknya indeks saham dan rupiah jelas bukan akibat kenaikan suku bunga. Kenaikan itu sudah diperkirakan oleh pasar maupun bank sentral," ungkap ekonom Citigroup Anton Gunawan kepada detikcom, Minggu (24/4/2005).Dalam pengamatan Anton faktor pelemahan bursa global dan menanjaknya dolar AS di pasar global lah yang memberikan andil bagi pelemahan rupiah dan indeks saham. "Jadi saya tidak tahu kalau ada yang bilang disebabkan oleh kenaikan SBI," ujarnya.Selain faktor global, anjloknya indeks saham 23,142 poin pada level 1.047,804 juga disebabkan oleh sentimen negatif atas turunnya saham-saham perbankan terutama Bank Mandiri akibat pemberitaan kasus kredit macet yang mencapai Rp 1 triliun."Faktor Bank Mandiri lah yang paling terasa dan akhirnya mempengaruhi saham-saham perbankan lainnya," ungkap Anton. Pekan lalu, harga saham BRI turun Rp 125 menjadi Rp 2.725, BCA turun Rp 75 menjadi Rp 3.325 dan Bank Mandiri turun Rp 70 menjadi Rp 1.590.Sementara untuk nilai tukar rupiah menurut Anton Gunawan mengalami pelemahan karena permintaan yang sangat besar terutama perusahaan yang memerlukan dolar AS untuk pembiayaan impor seperti Pertamina. Namun demikian diperkirakan trend pelemahan rupiah ini hanya temporer karena diperkirakan dengan masuknya fresh money dari Philip Morris yang akan membeli sisa saham Sampoerna lewat pasar modal akan menambah suplai dolar AS."Kan batas akhir pembelian itu 30 Mei 2005 jadi kalau benar-benar ada modal masuk dari Philip Morris diyakini rupiah akan menguat lagi karena syarat pembelian itu kan harus pakai rupiah sehingga mereka akan menukar dolar AS-nya," jelas Ekonom Citigroup ini.Menyangkut langkah dari otoritas moneter, Anton menyarankan agar lebih meningkatkan pengawasan kepada kalangan perbankan agar potensi terjadinya spekulasi dapat dihindari. "Supervisi atas perbankan perlu ditingkatkan agar tidak terjadi spekulasi. Itu yang saat ini diperlukan karena potensi spekulasi sangat tinggi," demikian Anton Gunawan. (san/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads