Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 25 Apr 2017 13:47 WIB

Sekarang Buruh Bangunan Hingga Tukang Bakso Bisa Nikmati Pensiun

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Ilustrasi (Foto: Lamhot Aritonang) Ilustrasi (Foto: Lamhot Aritonang)
Jakarta - Keikutsertaan tenaga kerja di Indonesia terhadap program dana pensiun masih terbilang rendah. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dari sekitar 50 juta tenaga kerja di Indonesia, baru 27% yang sadar akan pentingnya kehidupan purna kerja.

Seringkali, tenaga kerja formal alias kantoran yang mendapatkan kemudahan untuk mempersiapkan masa tuanya dengan mendapatkan pensiun. Namun tidak hanya pekerja kantoran, sekarang pekerja informal seperti buruh bangunan hingga tukang bakso juga bisa mendapatkan jaminan masa tuanya dengan mendapatkan pensiun.

"Di BPJS Ketenagakerjaan ada pekerja mandiri dan ada pekerja informal, itu akan di-cover oleh BPJS Ketenagakerjaan," tutur Deputi Komisioner Pengawas IKNB II OJK Dumoly Pardede dalam Seminar Internasional Dana Pensiun di Hotel Grand Hyatt, Jakarta Pusat, Selasa (25/4/2017).

Namun, jumlah tenaga kerja yang ikut dalam program dana pensiun tidak serta merta bisa melonjak dalam waktu dekat. Pasalnya, dibutuhkan sosialisasi lebih mendalam mengenai manfaat dan tujuan dari menyisihkan sebagian gaji mereka ke dana pensiun.

"Sekarang ini kan tidak bisa langsung semua informal masuk, tapi sosialisasi harus ada keyakinan bahwa pertumbuhan BPJS Ketenagakerjaan per tahun pertumbuhan karyawan formal dan informal naik 12%," ujar Dumoly.

Dumoly menambahkan, bahwa saat ini para pekerja harus mulai sadar akan pentingnya mempersiapkan dana pensiun saat sudah tak lagi bekerja. Adapun berbagai pilihan investasi untuk mempersiapkan dana pensiun, mulai dari dana pensiun konvensional hingga syariah.

Namun, perkembangan dana pensiun syariah saat ini pun belum menggembirakan karena belum banyak diminati oleh para pekerja. Setidaknya dibutuhkan waktu beberapa tahun untuk memperkenalkan produk dana pensiun syariah kepada para pekerja agar tertarik menginvestasikan dananya di sana.

"Boleh kita buat aturan sekarang dana pensiun syariah tapi mindset public harus seimbang dengan adanya dana pensiun syariah. Masyarakat punya pilihan, kalau konensional silakan, kalau mau syariah ada rumahnya," tutur Dumoly. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com