Perbankan Nilai Kredit Untuk TPT Masih Berisiko Tinggi
Selasa, 26 Apr 2005 11:49 WIB
Jakarta - Perbankan menilai kredit yang disalurkan untuk industri tekstil dan produk tekstil (TPT) masih memiliki risiko yang tinggi. Jika ada sektor yang lebih menarik, perbankan lebih memilih mengalokasikan kreditnya untuk sektor lain diluar TPT.Dirut BNI Sigit Pramono tidak menampik jika dana yang dialokasikan untuk kredit TPT akan direalokasikan untuk industri lain yang lebih rendah risiko dan lebih menarik. "Kalau dalam perkembangannya ada industri lain yang bagus, kita akan geser atau realokasi dari kredit. Kita kan dagang," tegas Sigit usai rapat dengan Gubernur BI , perbankan dan asosiasi pengusaha tekstil di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (26/4/2005).Sigit mengungkapkan, BNI selama tahun 2005 mengalokasikan kredit bagi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional sekitar 20 persen dari total kreditnya untuk industri ini. "Kalau kredit kita tumbuh Rp 16 triliun, berarti dalam portfolio maksimum Rp 3,2 triliun alokasinya," paparnya. Lebih jauh Sigit menyampaikan, selama tahun 2004, BNI mengucurkan kredit sebesar Rp 2,6 triliun untuk industri TPT, termasuk garmen, dengan NPL 8,4 persen. "Memang relatif masih cukup tinggi. Itu yang membuat perbankan memiliki pertimbangan pada waktu akan mengucurkan kredit ke sektor TPT," kata Sigit. Tetapi NPL ini menurut Sigit, jauh lebih baik dibanding sebelum pasca krisis. Sigit mengingatkan Indonesia harus memanfaatkan situasi memburuknya hubungan Cina dan Jepang saat ini karena investor Jepang kemungkinan mengalihkan investasinya ke Indonesia. "Dua minggu lalu saya ketemu dengan beberapa investor Jepang dan bankir Jepang. Mereka sepakat akan mulai mengalihkan investasinya ke Indonesia," ungkap sigit.
(qom/)











































