BI Kembalikan NOP ke 20 Persen

BI Kembalikan NOP ke 20 Persen

- detikFinance
Selasa, 26 Apr 2005 16:35 WIB
Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah menyatakan, Bank Indonesia mulai hari mengembalikan net open position (NOP) bank dari 30 persen ke tingkat 20 persen sama seperti sebelum Januari 2005. Hal ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai Rupiah. Penjelasan itu disampaikan Burhanudin kepada wartawan usai memghadiri business luncheon di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (26/4/2005). Hadir dalam acara tersebut Presiden Cina Hu Jintao yang juga menjadi pembicara utamanya.Langkah tersebut, kata Burhanuddin, dilakukan untuk jangka waktu yang tidak terlalu lama. "Tujuannya mempertahankan stabilitas Rupiah ke tingkat sebenarnya karena di level Rp 9.600, effective exchange sudah undervalue 9 persen. Tapi pengembalian kebijakan NOP ini hanya bersifat sementara," tegasnyaKebijakan itu diambil, kata Burhanuddin setelah Bank Indonesia menggelar rapat berdasarkan hasil rapat pimpinan Bank Indonesia. "Kebijakan ini merupakan hasil RDG tadi pagi yang berisi langkah jangka pendek dengan tidak mengesampingkan dampak ke jangka menengah dan panjang," katanya.Langkah-langkah lainnya antara lain penyerapan likuiditas dengan menaikkan suku bunga pada batas 15-20 basis poin. "Tapi ini melihat dulu perkembangan pasar. Kalau likuiditas bertambah, maka dilakukan," tegasnya.Selain itu, kemungkinan BI melakukan intervensi dengan cara forward transactiondemand Pertamina terhadap permintaan dolar di pasar karena contoh beberapa waktu lalu Pertamina sempat memborong US$ 150 juta untuk kebutuhan impornya," tegasnya. Pemerintah, kata Burhanuddin, juga akan menyusun langkah-langkah penting untuk dapat menstabilkan Rupiah yang akan dibicarakan degan BI. "Diharapkan akan dilaksanakan dalam waktu dekat supaya bisa menekan pelemahan Rupiah," tandasnya. Dalam kesempatan yang sama Presiden Cina Hu Jintao menyatakan, kerajsama antara Cina dan Indonesia akan lebih ditingkatkan. "Cina dan Indonesia juga akan saling membantu untuk berkembang secara bersama-sama," tegasnya.Presiden Cina juga berharap volume perdagangan Cina dan negara negara Asia meningkat menjadi US$ 200 miliar setelah tahun 2010. "Volume perdagangan Cina dan Asia pada tahun 2004 mencapai US$ 105,9 miliar yang berarti meningkat 30 persen dari tahun sebelumnya," tegasnya. Dari jumlah tersebut negara-negara Asia mengalami surplus US$ 20 miliar, tambah Hu Jintao dalam pidatonya. (mar/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads