BI Soroti Lemahnya Ekonomi Sumatera dan Indonesia Timur

BI Soroti Lemahnya Ekonomi Sumatera dan Indonesia Timur

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 12 Mei 2017 20:11 WIB
BI Soroti Lemahnya Ekonomi Sumatera dan Indonesia Timur
Foto: Sylke Febrina Laucereno
Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo cukup puas dengan realisasi ekonomi pada kuartal I-2017. Akan tetapi Agus menyoroti kondisi Sumatera dan sejumlah daerah di kawasan Indonesia tengah dan timur yang melambat.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang 5,01% ini lebih baik dari kuartal I 2016 lalu, sumbangsih pulau Jawa dan Kalimantan cukup baik, tapi Sumatera dan kawasan Indonesia timur ada penurunan," kata Agus di Gedung BI, Jumat (12/5/2017).

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter, Dody Budi Waluyo menambahkan perlambatan terjadi karena adanya penurunan investasi dan perdagangan antar daerah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk Sumatera tumbuh 4,05% turun dibandingkan 4,49% kuartal IV tahun lalu," kata Dody kepada detikFinance.

Kemudian selain Sumatera, wilayah Sulampua Makassar juga mengalami perlambatan. Kuartal I tahun ini wilayah tersebut tumbuh 6,08% lebih rendah dibandingkan kuartal IV 2016 yang tumbuh 9,21%.

Lalu wilayah Bali dan Nusa Tenggara hanya tumbuh 3,26% lebih lambat dibandingkan kuartal IV tahun lalu 4,87%.

"Perlambatan terjadi karena adanya penurunan kinerja pertambangan terkait izin ekspor," tambah dia.

Dia menjelaskan, perekonomian nasional kuartal I 2017 tumbuh 5,01% ditopang oleh pertumbuhan ekonomi di pulau Jawa yang mencapai 5,66% naik dibandingkan kuartal IV 2016 5,45%.

Kemudian pertumbuhan ekonomi kalimantan yang tercatat 4,92% naik dari kuartal IV tahun lalu 2,22%. Penopang pertumbuhan wilayah ini adalah perbaikan kinerja ekspor dan investasi.

"Secara spasial pertumbuhan ekonomi positif di kuartal I ini, meski pertumbuhan di beberapa wilayah melambat," ujarnya.

Bank sentral memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini tetap di kisaran 5-5,4% dengan dorongan investasi khususnya stimulus terkait infrastruktur dan ekspor karena perbaikan harga komoditi dan pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih tinggi.

"Kami harapkan daerah yang tadinya tumbuh lambat bisa tumbuh lebih tinggi di akhir tahun ini," kata Dody. (mkj/mkj)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads