PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) penerbit TapCash mengungkapkan idealnya pengenaan fee adalah Rp 1.500 hingga Rp 2.000 sekali isi ulang alias top-up.
"Sepanjang yang kami ikuti, nominal tersebut merupakan hasil diskusi dengan industri," kata Direktur Konsumer BNI Anggoro Eko Cahyo saat dihubungi, Selasa (6/6/2017)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kajiannya sudah jalan, mestinya sebelum Oktober bisa selesai," ujar dia.
Sementara itu, Direktur PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Sis Apik Wijayanto mengatakan saat ini BRI melalui kartu Brizzi memang belum mengenakan fee untuk isi ulang uang elektronik.
"Kalau fee yang biasanya untuk payment di kisaran Rp 1.500 -2.500, ya sekitar segitulah sama," ujar dia.
Sis menambahkan, jumlah biaya akan diatur oleh BI. Karena itu pihaknya akan menunggu aturan dan tidak akan melebihi batas yang ditetapkan.
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) penerbit kartu Flazz mengungkapkan saat ini masih mempelajari besaran biaya yang akan dikenakan untuk pengisian ulang uang elektronik.
"Sedang dikaji dan dipelajari, harusnya mendekati jumlah fee ketika isi ulang pulsa, kita coba kaji lagi supaya masyarakat juga tidak terkejut nantinya," ujar dia.
Sementara itu PT Bank Mandiri Tbk penerbit e-Money mengungkapkan saat ini masih belum mengetahui berapa idealnya fee yang akan dikenakan untuk topup.
"Belum difinalisasi, akan dibahas dalam waktu dekat," kata Direktur Teknologi dan Digital Bank Mandiri Rico Usthavia Frans.
Saat ditanyakan berapa besaran ideal dan apakah sama dengan top-up di halte TransJakarta yang dipatok Rp 2.000 per top-up, Rico mengatakan masih di kisaran itu.
"Ya kurang lebih segitu lah," ujar dia.
Mengutip data statistik sistem pembayaran uang elektronik BI, jumlah uang elektronik beredar per April 2017 tercatat 57,76 juta lebih tinggi dibandingkan periode Desember 2016 51,2 juta.
Sedangkan untuk volume transaksi hingga April 2017 mencapai 235,61 juta transaksi. Periode akhir 2016 volume transaksi mencapai 683,133 juta transaksi.
Sementara itu dari sisi nominal transaksi, per April 2017 tercatat Rp 2.85 triliun. Untuk akhir 2016 tercatat Rp 7.06 triliun. (ang/ang)











































