Isi Ulang e-Money Kena Biaya, BI: Tidak Mahal-Mahal

Isi Ulang e-Money Kena Biaya, BI: Tidak Mahal-Mahal

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 06 Jun 2017 13:38 WIB
Isi Ulang e-Money Kena Biaya, BI: Tidak Mahal-Mahal
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Bank Indonesia (BI) sedang menggodok aturan terkait biaya yang akan dikenakan untuk isi ulang uang elektronik alias e-money. Nilainya tidak besar.

Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Pungky Purnomo Wibowo mengatakan saat ini BI sedang melakukan finalisasi.

"Tentunya untuk biayanya tidak akan mahal-mahal, tapi memang sedang dikaji besarannya. Kan ini juga untuk membantu perbankan untuk menyediakan sarana dan prasarana top-up," ujar Pungky saat dihubungi, Selasa (6/6/2017)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terkait biaya yang ada di e-money, Pungky menjelaskan, saat ini sudah ada sejumlah bank yang menurunkan biaya untuk kartu perdana nya.

"Harga perdana masing-masing bank akan beda, tergantung dia bagaimana menarik potensial customer, umumnya per kartu Rp 20.000 kan," ujar dia.

Menurut Pungky, dengan National Payment Gateway (NPG) atau gerbang pembayaran nasional, akan terjadi interkoneksi dan operabilitas dalam transaksi uang elektronik.

"Jadi bank bisa bersaing secara efektif dan efisien, tidak ada monopoli. Tujuan utama kami adalah menghapuskan persaingan jadi harga bisa semakin kompetitif," ujar Pungky.

Sekedar informasi, BI dan industri sedang mengkaji terkait fee untuk uang elektronik. Mulai dari fee merchant hingga fee untuk isi ulang. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads