Follow detikFinance
Selasa 06 Jun 2017, 14:45 WIB

Isi Ulang e-Money Kena Biaya, Setuju atau Tidak?

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Isi Ulang e-Money Kena Biaya, Setuju atau Tidak? Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Sejumlah bank penerbit kartu uang elektronik sudah memiliki kajian jumlah ideal untuk biaya isi ulang. Untuk sosialisasi ke pengguna, bank masih menunggu aturan Bank Indonesia (BI).

Beberapa bank sudah mengusulkan dan membicarakan berapa besaran biaya yang akan dikenakan tersebut. Kisarannya, mulai Rp 1.500 sampai Rp 3.000 sekali isi ulang alias top-up.

Alasan diterapkannya fee saat ini ulang ini adalah supaya perbankan bisa memberikan layanan yang terbaik kepada nasabahnya. Biaya ini juga yang akan digunakan perbankan untuk menyediakan sarana dan prasana isi ulang.

Namun, kajian BI terkait biaya untuk top-up e-money ini dinilai akan memberatkan pengguna di sektor transportasi, khususnya masyarakat kecil.

Sementara para nasabah kelas menengah dan menengah atas tidak akan terasa terbebani karena biasanya melakukan isi ulang alias top-up lebih banyak.

Lantas, setujukah Anda dengan aturan yang sedang digodok bank sentral ini? Atau Anda keberatan? Atau tidak peduli?

Ikuti survey lewat Twitter @detikFinance di bawah ini, lalu kemukakan pendapat Anda di kolom komentar.

Survei ini dimulai dari pukul 14.00 WIB hari ini dan berakhir pada Rabu (6/6/2017) pukul 12.00 WIB. Anda juga bisa ikut menyuarakan pendapat atas isu ini di Twitter lewat tagar #eMoneyKenaFee.

Baca juga berita-berita seputar rencana penerapan fee isi ulang e-money di Fokus Berita: Isi Ulang e-Money Kena Biaya (ang/bar)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed