Follow detikFinance
Selasa 06 Jun 2017, 16:25 WIB

Saldo e-Money Bukan Dana Pihak Ketiga

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Saldo e-Money Bukan Dana Pihak Ketiga Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Saldo atau jumlah yang ada di dalam uang elektronik chip base tidak diakui sebagai dana pihak ketiga (DPK). DPK ini lazim dikenal sebagai simpanan, seperti tabungan, deposito, giro, dan lain-lain.

Menurut Direktur Konsumer PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), Anggoro Eko Cahyo, jika digunakan secara rutin, uang di dalam kartu itu akan berputar.

"Jadi uang yang ada di dalam e-money itu murni milik sendiri, jadi jangan sampai hilang, perlakukan e-money sama dengan uang kertas, karena bank hanya mengubah bentuknya saja, tidak menyimpan di sistem," ujar Anggoro saat dihubungi, Selasa (6/6/2017).

Tapi menurut dia, uang elektronik bisa memudahkan pengguna dalam melakukan transaksi. Contohnya, saat ini banyak pengguna yang masih belum menghitung kenyamanan dan keamanan ketika menggunakan uang elektronik.

"Sekarang belum dihitung oleh pengguna berapa banyak bensin yang terbuang kalau antri panjang. Di tol tiap pagi saya masih lihat petugas loket yang gunakan uang tunai kewalahan, yang non tunai lancar, kalau tiap hari antre 2-3 menit di tol itu kalau dikalikan bisa lumayan," ujar Anggoro.

Menurut Anggoro untuk uang tunai saat ini tidak efisien dan lebih mahal. Namun masih banyak masyarakat yang menggunakan uang tunai, padahal saat ini untuk uang tunai ada biaya pemeliharaanya dan lebih mahal daripada uang elektronik.

"Uang tunai itu ada cost-nya, lebih mahal daripada non tunai," Kata Anggoro.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, sisa saldo endapan di uang elektronik tidak masuk ke sistem DPK bank.

"Jadi ya memang uang sendiri hanya bentuknya yang beda, tidak masuk simpanan bank," ujar dia.

Dia menceritakan, beberapa tahun lalu saat kartu Flazz memiliki jumlah kartu masih ratusan ribu, jumlah saldo per pengguna bisa mencapai Rp 300.000-400.000.

"Karena dulu nasabah isi dalam jumlah besar dan digunakan untuk belanja, tapi setelah dibuka untuk transportasi, seperti Commuterline dan Transjakarta, jumlah kartu memang meningkat tapi saldo nya tidak banyak rata-rata Rp 30.000-50.000," ujar dia. (ang/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed