Posisi suku bunga acuan memang tak bergerak sejak Oktober 2016 atau selama 9 bulan. BI menahan laju penurunan suku bunga sejak Donald Trump terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).
Kebijakan Donald Trump yang agresif harus diimbangi oleh kebijakan moneter yang dipegang oleh Bank Sentral. Makanya suku bunga acuan AS naik lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Baru saja beberapa hari lalu dinaikkan sebesar 25 basis point.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengungkapkan, selain itu kondisi global di Eropa yang harus diwaspadai adalah perkembangan Italia yang perbankannya mengalami kondisi yang tidak terlalu baik. Kemudian Inggris dengan kekacauan pada pemilihan umumnya.
Perbaikan kondisi ekonomi dunia, kata Agus hanya terlihat dari sisi harga komoditas yang pengaruhnya cukup signifikan terhadap Indonesia.
"Ini akan terus kami waspadai, dengan suku bunga yang tetap, kami konsisten jaga stabilitas makro ekonomi Indonesia dan sistem keuangan serta mendorong pemulihan ekonomi," ujar dia.
Sementara dari sisi investasi nasional sudah menggembirakan, yang tadinya didominasi oleh pemerintah dengan pembangunan infrastrukturnya, swasta juga turut menyumbang investasi. "Bahkan investasi non bangunan pun sudah mulai naik khususnya sektor konstruksi," imbuh Agus.
Seiring meningkatnya investasi, pertumbuhan ekonomi semester II 2017 diproyeksi akan mengalami perbaikan. Selain itu konsolidasi perbankan dan konsolidasi korporasi masih terus berjalan. BI mengharapkan konsolidasi bisa selesai dan pemulihan ekonomi Indonesia akan berjalan maksimal.
Agus menjelaskan tingkat inflasi nasional masih menunjukan kondisi yang baik. Padahal, BI sebelumnya memperkirakan 4,63% namun kenyataanya pada Mei 4,36%. BI meyakini inflasi dalam kedaan aman karena pasokan barang di seluruh Indonesia terjaga. Untuk Ramadan dan Lebaran diprediksi inflasi akan terjaga.
"Kami hargai upaya yang dilakukan pemerintah pusat, pemerintah daerah untuk menjaga inflasi," ujarnya.
(mkj/mkj)











































