Follow detikFinance
Senin 10 Jul 2017, 19:42 WIB

Dana Asing Kabur Jadi Penyebab Rupiah Loyo Pasca Lebaran

Hendra Kusuma - detikFinance
Dana Asing Kabur Jadi Penyebab Rupiah Loyo Pasca Lebaran Foto: Maikel Jefriando
Jakarta - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pasca libur Lebaran. Dolar AS sempat menyentuh level Rp 13.400, atau ke luar dari zona nyaman pada kisaran Rp 13.300. Hal ini besar dipengaruhi oleh kondisi eksternal sehingga mendorong dana kabur dari RI.

Demikianlah diungkapkan oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo usai rapat kerja dengan Komisi XI di Gedung DPR, Jakarta, Senin (10/7/2017).

Acuan sederhana, kata Agus dapat dilihat dari posisi mata uang negara lain yang juga melemah terhadap dolar AS. "Itu karena di Amerika ada risiko fed fund rate (FFR) akan naik, dan neraca The Fed akan diturunkan," jelasnya

Suku bunga acuan AS diproyeksikan kembali naik jelang akhir tahun. Sehingga totalnya menjadi tiga kali, sama seperti yang diperkirakan berbagai kelangan sejak Donald Trump menjadi Presiden AS.

Jelang kenaikan, biasanya investor mengambil ancang-ancang lebih cepat terhadap dana yang tersimpan di berbagai negara berkembang. Sehingga ketika ada pengumuman, pasar keuangan global tidak begitu panik. Hal lain yang turut menjadi perhatian adalah kondisi geopolitik yang memanas pada berbagai kawasan, seperti Timur Tengah hingga Semenanjung Korea.

"Itu buat seperti kejadian hari-hari ini yaitu mata uang dunia melemah terhadap AS, dan AS terus menguat. Dan negara-negara yang banyak terima capital inflow sudah mulai ada tekanan capital outflow jadi ini juga bisa membuat nilai tukar kita melemah," paparnya.


Dari dalam negeri sendiri, Agus tidak melihat ada persoalan yang begitu serius. Ada memang perubahan pada APBN 2017, terutama defisit anggaran yang diproyeksikan mencapai 2,9% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) akibat penerimaan pajak yang dimungkinkan kembali tidak mencapai target.

"Kalau defisit pemerintah bilang bisa ke 2,9% tapi akan dijaga dengan self blocking itu semua convince tentang itu," ujarnya.

Inflasi, kata Agus juga dalam tahapan terkendali meskipun sempat ada sedikit kenaikan seiring dengan kegiatan Lebaran. Sampai dengan akhir tahun Agus memandang nilai tukar masih bisa terkendali sesuai dengan asumsi pemerintah.

"Kalau kita ikuti rata-rata nilai tukar di rupiah dari Januari sampai Juli ini kan rata-rata sudah 13.330. Makanya kalo 13.400 rata-rata sepanjang tahun 2017 adalah cerminan nilai tukar kita. Bukan hanya soal inflasi tapi kondisi capital inflow dan outflow," tandasnya.

Pergerakan Rupiah Selama 2017

Bila melihat dari awal tahun hingga 7 Juli 2017 nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah mengalami penguatan sebesar 0,52%.

"Terkait dengan nilai tukar rupiah menguat, secara umum nilai tukar stabil. hingga 7 juli 2017, secara ytd, rupiah menguat 0,52% mencapai Rp 13.403 rupiah per dollar AS," kata Agus.

Penguatan rupiah yang sebesar 0,52% dipengaruhi oleh adanya pemberian rating oleh lembaga pemeringkat S&P kepada Indonesia menjadi investment grade. Serta, data makro ekonomi Indonesia yang terus menunjukkan kondisi positif dan sentimen positif terhadap prospek ekonomi Indonesia.

"Kelihatan bahwa indonesia tejadi penguatan 0,52% selama 2017 dan ini kurang lebih sejalan dengan negara lain. mungkin negara seperti Turki, Filipina, dan Brazil menunjukkan kondisi pelemahan, tapi secara umum sampai 7 juli 2017 menunjukkan penguatan 0,52%," ungkap dia. (mkj/dna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed