BI Tahan Suku Bunga Acuan Selama 8 Bulan, Ini Penjelasannya

BI Tahan Suku Bunga Acuan Selama 8 Bulan, Ini Penjelasannya

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 20 Jul 2017 23:45 WIB
BI Tahan Suku Bunga Acuan Selama 8 Bulan, Ini Penjelasannya
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia akhirnya memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-day RR Rate) tetap sebesar 4,75%. Ini artinya suku bunga acuan sudah ditahan selama delapan bulan.

Rapat yang berlangsung jelang tengah malam tersebut juga memutuskan suku bunga Deposit Facility tetap 4% dan Lending Facility tetap 5,50%, berlaku efektif sejak 21 Juli 2017.

"Keputusan tersebut konsisten dengan upaya Bank Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, dengan mempertimbangkan dinamika perekonomian global dan domestik," kata Arbonas Hutabarat, Direktur Departemen Komunikasi BI di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (20/7/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertumbuhan ekonomi dunia terus membaik sesuai perkiraan dengan beberapa risiko yang tetap perlu dicermati. Di satu sisi, perekonomian AS diperkirakan tumbuh lebih rendah akibat dari investasi yang tertahan oleh terbatasnya dampak kebijakan fiskal dan menurunnya prospek harga minyak. Di sisi lain, perekonomian Tiongkok diperkirakan tumbuh lebih baik ditopang oleh konsumsi dan ekspor yang meningkat.

Di Eropa, pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan lebih baik seiring dengan peningkatan aktivitas konsumsi, kinerja ekspor yang membaik dan meningkatnya optimisme perekonomian. Perbaikan ekonomi global tersebut mendorong meningkatnya volume perdagangan dunia dan diharapkan dapat berdampak positif terhadap ekspor Indonesia.

Harga komoditas global diperkirakan tetap tinggi, meskipun harga minyak berpotensi bias ke bawah karena pasokan yang berlebih di tengah permintaan yang terbatas. Meski demikian, BI juga waspadai berbagai risiko dari sisi global, terutama normalisasi neraca bank sentral AS.

Proses pemulihan ekonomi Indonesia terus berlanjut pada triwulan II-2017 meskipun tidak sekuat perkiraan semula. Pertumbuhan konsumsi berpotensi lebih rendah sebagaimana tercermin pada perlambatan pertumbuhan penjualan ritel. Kinerja ekspor tetap tumbuh meskipun lebih rendah dari perkiraan semula, terutama dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan volume ekspor produk primer dan manufaktur.

Sebaliknya, investasi tumbuh lebih baik terutama non bangunan ditopang investasi terkait sumber daya alam, di tengah investasi bangunan yang masih cukup baik terkait dengan proyek infrastruktur Pemerintah dan sektor konstruksi swasta. Dengan perbaikan pada paruh kedua 2017, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan 2017 masih dalam kisaran 5,0-5,4%.

Tekanan inflasi diperkirakan sedikit berkurang di bawah perkiraan semula akibat permintaan yang masih lemah dan terkendalinya harga pangan. Inflasi IHK pada Juni 2017 tercatat rendah dan mendukung pencapaian sasaran inflasi 2017 sebesar 4,0Β±1%. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Juni 2017 tercatat 0,69% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata inflasi periode lebaran dalam tiga tahun terakhir sebesar 0,85% (mtm).

Penguatan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran akan tetap dijalankan BI untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta tetap memberi dukungan bagi pemulihan ekonomi lebih lanjut. BI terus mempererat koordinasi bersama Pemerintah dalam rangka pengendalian inflasi agar tetap berada pada kisaran sasaran dan mendorong kelanjutan reformasi struktural agar dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

(mkj/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads